<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791</id><updated>2012-02-15T23:47:44.832-08:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Buku'/><category term='Anda Bertanya Saya Menjawab'/><title type='text'>PENELITIAN TINDAKAN KELAS</title><subtitle type='html'>Menuju Profesionalitas Guru, Demi Ketercapaian Kompetensi Maksimal Siswa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-6663749744222916943</id><published>2010-05-04T18:16:00.000-07:00</published><updated>2010-05-04T18:16:44.314-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran</title><content type='html'>Oleh : Akhmad Sudrajat &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Abstrak:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut (act). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci : lesson study, kolaboratif, plan, do, check, act&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang Lesson Study, yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dari pada bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, Lesson Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, akan dipaparkan secara ringkas tentang apa itu Lesson Study dan bagaimana tahapan-tahapan dalam Lesson Study, dengan harapan dapat memberikan pemahaman sekaligus dapat mengilhami kepada para guru (calon guru) dan pihak lain yang terkait untuk dapat mengembangkan Lesson Study lebih lanjut guna kepentingan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Hakikat &lt;em&gt;Lesson Study&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Cerbin &amp;amp; Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, menurut Lesson Study Project (LSP) beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis MGMP. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal keanggotaan kelompok, Lesson Study Reseach Group dari Columbia University menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai decision maker di sekolah. Dengan keterlibatannya dalam Lesson Study, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui Lesson Study. Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Tahapan-Tahapan &lt;em&gt;Lesson Study&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;em&gt;Form a Team:&lt;/em&gt; membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;em&gt;Develop Student Learning Goals:&lt;/em&gt; anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;em&gt;Plan the Research Lesson:&lt;/em&gt; guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;em&gt;Gather Evidence of Student Learning:&lt;/em&gt; salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;em&gt;Analyze Evidence of Learning:&lt;/em&gt; tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;em&gt;Repeat the Process:&lt;/em&gt; kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1. Tahapan Perencanaan (Plan)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;2. Tahapan Pelaksanaan (Do)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;3. Tahapan Refleksi (Check)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;4. Tahapan Tindak Lanjut (Act)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Lesson Study adalah : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ciri-ciri dari Lesson Study yaitu adanya: (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lesson study memberikan banyak manfaat bagi para guru, antara lain: (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penyelenggaraan Lesson Study dapat dilakukan dalam dua tipe: (a) Lesson Study berbasis sekolah; dan (a) Lesson Study berbasis MGMP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Lesson Study dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); (c) refleksi (check); dan (d) tindak lanjut (act). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber Bacaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Cerbin &amp;amp; Bryan Kopp. &lt;em&gt;A Brief Introduction to College Lesson Study.&lt;/em&gt; Lesson Study Project. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catherine Lewis. 2004. &lt;em&gt;Does Lesson Study Have a Future in the United States?.&lt;/em&gt; Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lesson Study Research Group&lt;/em&gt; online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet Mulyana. 2007. "Lesson Study" (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wikipedia. 2007. &lt;em&gt;Lesson Study.&lt;/em&gt; Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-6663749744222916943?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/6663749744222916943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=6663749744222916943' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/6663749744222916943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/6663749744222916943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2010/05/lesson-study-untuk-meningkatkan-proses.html' title='Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-4279410127753225050</id><published>2010-03-06T07:23:00.000-08:00</published><updated>2010-03-06T07:23:14.950-08:00</updated><title type='text'>UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SD DENGAN METODE MUELLER</title><content type='html'>Seva Andini Kusnawanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Abstrak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar yang memegang peran penting adalah membaca, khususnya membaca permulaan. Pada sisi lain, pentingnya pengajaran membaca permulaan pada anak diberikan sejak usia dini ini juga bertolak dari kenyataan bahwa masih terdapat sebelas juta anak Indonesia dengan usia 7 – 8 tahun tercatat masih buta huruf (Infokito, 2007). Selain itu, menurut laporan program pembangunan 2005 PBB tentang daftar negara berdasarkan tingkat melek huruf, Indonesia masih berada pada peringkat 95 dari 175 negara. Pada sisi lain, berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Leminggir I rendah yang disebabkan oleh metode pembelajarannya yang kurang menarik bagi siswa. Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti melakukan upaya perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode Mueller, yaitu metode pembelajaran membaca permulaan yang memanfaatkan benda-benda konkret yang berada di sekitar anak yang diwujudkan ke dalam kegiatan bermain. Dengan penerapan metode tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Leminggir I. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berjenis penelitian tindakan kelas, hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan rata-rata sebesar 12,5%. Bahkan, kalau dikaitkan dengan SKM yang dipatok sekolah (85%), hasil evaluasi Silklus II menunjukan pencapaian ketuntasan belajar sampai 90%. Hal ini membuktikan bahwa metode Mueller cocok diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan pada siswa kelas I SDN Leminggir I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;Kata kunci :&lt;/em&gt; Membaca permulaan, Metode Mueller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan dalam memelajari semua bidang studi. Menyadari peran yang demikian, pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu siswa mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartsipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya (Depdiknas, 2006:317). Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan masyarakat Indonesia (Depdiknas, 2006:231). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Dalam kebijakan pendidikaan kita, Bahasa Indonesia diajarkan sejak anak usia dini. Hal ini disebabkan pengajaran tersebut dapat memberikan kemampuan dasar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar yang memegang peran penting adalah membaca, khususnya membaca permulaan. Membaca permulaan merupakan kegiatan awal untuk mengenal simbol-simbol fonetis (Arifin, 2004:11). Pada sisi lain, pentingnya pengajaran membaca permulaan pada anak diberikan sejak usia dini ini juga bertolak dari kenyataan bahwa masih terdapat sebelas juta anak Indonesia dengan usia 7 – 8 tahun tercatat masih buta huruf (Infokito, 2007). Selain itu, menurut laporan program pembangunan 2005 PBB tentang daftar negara berdasarkan tingkat melek huruf, Indonesia masih berada pada peringkat 95 dari 175 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru kelas di SDN Leminggir I diperoleh informasi tentang kondisi kemampuan membaca siswa di beberapa tingkatan kelas. Berdasarkan informasi tersebut diketahui masih ada beberapa siswa di kelas 4, 5, dan 6 (kelas tinggi) yang membacanya masih dengan cara mengeja. Hal ini tampak pada nilai siswa pada aspek membaca yang tidak mencapai standar kelulusan. Padahal, pada tingkatan kelas tersebut seharusnya kemampuan membaca siswa tidak lagi hanya mengenali tulisan tapi mulai memaknai dan memahami arti tulisan, sebagaimana dikatakakan Slamet (2007:42) bahwa siswa yang duduk di kelas 4 sampai dengan kelas 2 SMP membaca tidak lagi pada pengenalan tulisan tetapi pada pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Mengetahui adanya kondisi tersebut peneliti mencoba mendeteksi apa penyebab ketidaktercapaian tujuan pembelajaran membaca di SDN Leminggir. Dari hasil observasi diketahui bahwa ketidaktercapaian tujuan tersebut antara lain disebabkan kurang menariknya pembelajaran membaca permulaan di kelas rendah, khususnya kelas 1 dan minimnya kreativitas guru menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Guru menggunakan metode yang kurang menarik minat siswa untuk belajar membaca. Guru langsung mengajak siswa untuk membaca buku teks. Menurut pengamatan peneliti, metode pembelajaran semacam ini dianggap kurang efektif dan mengakibatkan hasil belajar siswa kurang maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain: (1) metode SAS, (2) metode abjad dan metode bunyi, (3) metode kupas rangkai suku kata, (4) metode kata lembaga, dan (5) metode global (Slamet, 2007:62). Berpijak pada keberhasilan metode-metode tersebut peneliti mencoba menerapkan metode baru yang dikembangkan oleh Stephanie Mueller untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan di SD Leminggir I. Metode ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca permulaan karena dapat meningkatkan kemampuan motorik, intelegensi, dan kemandirian anak. Menurut Mueller (2006:7), pengajaran membaca permulaan sebaiknya diajarkan sejak dini dengan cara mengenalkan tulisan-tulisan yang konkret yang sering ditemukan dalam dunia anak. Metode ini dikemas dengan pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Dalam penerapannya, Metode Mueller ini sesuai dengan pembelajaran kontekstual atau sering disebut dengan Contextual Teaching and Learning (CTL), yaitu strategi pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual yang ditawarkan dan diidentifikasi dalam strategi CTL terdapat pula dalam metode Mueller. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Berdasarkan pertimbangan dan informasi dari guru tersebut, peneliti merasa perlu melakukan penelitian mengenai pembelajaran membaca di kelas I SD dengan fokus penelitian pada “Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SD dengan Metode Mueller pada Pembelajaran Bahasa Indonesia SDN Leminggir I Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;METODE&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research), yaitu bentuk penelitian praktis yang dilaksanakan oleh guru untuk menemukan solusi dari permasalahan yang timbul di kelasnya agar dapat meningkatkan proses dan hasil pembelajaran di kelas (Dasna, 2007:2). Bisa juga dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama (Arikunto, 2007:3). Penetapan jenis pendekatan ini didasarkan pada tujuan bahwa peneliti ingin mendeskripsikan kompetensi siswa di kelas, terutama deskripsi tentang peningkatan kemampuan membaca permulaan di kelas I SDN Leminggir .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan alasan (1) penelitian ini berupaya untuk melakukan inovasi terhadap kegiatan pembelajaran di kelas, (2) pelaksanaan penelitian tindakan kelas tidak mengganggu tugas pokok seorang guru, (3) penelitian tindakan kelas sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelas. Kegiatan penelitian ini dimulai dengan kegiatan orientasi dan observasi terhadap latar penelitian yang meliputi latar SD sasaran, guru, siswa dan kegiatan belajar mengajar membaca permulaan di sekolah tersebut. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini secara garis besar dilaksanakan dalam empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi (Arikunto, 2007:16). Hubungan antara keempat komponen tersebut menunjukkan sebuah siklus atau kegiatan berulang. “Siklus” inilah yang sebetulnya menjadi salah satu ciri utama dari penelitian tindakan kelas. Dengan demikian, penelitian tindakan kelas tidak terbatas dalam satu kali intervensi saja, tetapi berulang hingga mencapai ketuntasan yang diharapkan (Arikunto, 2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Lokasi penelitian ini bertempat di SDN Leminggir, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Subjek penelitian adalah siswa kelas 1 Tahun Pelajaran 2008 – 2009 yang berjumlah 14 siswa: 7 siswa perempuan dan 7 siswa laki-laki. Dipilih SDN Leminggir karena (1) berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas I ternyata yang bersangkutan mengalami kesulitan dalam pembelajaran membaca permulaan, (2) pembelajaran membaca dan menulis permulaan masih menggunakan metode tradisional dan belum menggunakan metode Mueller, dan (3) kemampuan membaca dan menulis siswa kelas I masih sangat rendah, walaupun sudah berjalan satu semester. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan data kuantitaif. Data kualitatif berupa catatan lapangan, hasil wawancara, dan foto, sedangkan data kuantitaf berupa skor yang diperoleh siswa. Adapun sumber data adalah peneliti, guru kelas 1 dan siswa kelas 1. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa RPP, lembar kerja siswa, lembar obsevasi, dan instrumen pengukuran kemampuan membaca permulaan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Berikut prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini. Obsevasi atau pengamatan dilakukan sebelum pemberian tindakan dan pada saat pemberian tindakan. Pada penelitian ini, observasi pada saat pembelajaran berlangsung dilakukan berdasarkan lembar observasi. Lembar obsevasi ini digunakan untuk menilai kemampuan mengajar guru (APKG 2). Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Dalam penelitian ini nara sumbernya adalah kepala sekolah, dewan guru dan guru kelas I khususnya, dan siswa kelas I. Data yang didapatkan meliputi kondisi dan latar belakang sekolah, kemampuan membaca siswa secara global, kegiatan pembelajaran, dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan metode Mueller. Catatan lapangan merupakan catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dan dialami, dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data. Catatan lapangan ini berisi hasil pengamatan yang diperoleh peneliti selama pemberian tindakan berlangsung. Dalam penelitian ini, untuk mengukur kemampuan membaca siswa dilakukan tes membaca. Tes membaca pada saat tindakan adalah siswa diminta membacakan pengalamannya di depan kelas berdasarkan lembar kerja yang diberikan. Dalam penelitian yang dilaksanakan, selain data berupa catatan tertulis juga dilakukan pendokumentasian berupa foto. Foto ini dapat dijadikan sebagai bukti otentik bahwa pembelajaran benar-benar berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Analisis data penelitian ini dilakukan dengan melalui tiga tahap, yaitu pengolahan data, paparan data, dan penyimpulan data. Pengolahan data dilakukan dengan cara mengelompokkan data menjadi dua kelompok, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan cara memprosentase, kemudian hasil prosentase dinyatakan atau dipaparkan dalam kalimat kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan cara membuat skor terhadap item-item yang perlu diberi skor. Kemudian memprosentase, hasil prosentase ditafsirkan dalam bentuk kalimat kuantitatif dan disimpulkan ke dalam bentuk kalimat deskriptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Penggunaan metode Mueller dikatakan berhasil dan dapat meningkatkan ketrampilan membaca dan menulis, jika hasil belajar atau ketuntasan belajar siswa minimal 80 dan ketuntasan belajar kelompok atau kelas mencapai 85%. Jika target ketuntasan ini belum tercapai, maka penggunaan metode Mueller perlu diperbaiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;HASIL&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Studi pendahuluan dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2008 di SDN Leminggir I yang terletak di Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Studi ini dilakukan untuk menggali informasi dari beberapa guru tentang kondisi sekolah dan kemampuan membaca di SDN Leminggir I. Hasilnya, peneliti memperoleh informasi mengenai kondisi sekolah, latar belakang pendidikan guru, dan jumlah siswa yang belajar di SDN Leminggir. Selain itu, diketahui juga kemampuan membaca siswa dari kelas rendah dan kelas tinggi. Peneliti mendapat informasi bahwa di kelas tinggi masih ada beberapa siswa yang kemampuan membacanya masih mengeja dan terbata-bata, dan hal ini berdampak pada hasil belajarnya secara keseluruhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Berdasarkan kegiatan observasi tersebut, kemudian peneliti mencoba untuk mendekati guru kelas rendah, khususnya di kelas 1. Peneliti menggali informasi tentang kegiatan pembelajaran membaca permulaan di kelas 1. Dalam kegiatan pembelajaran guru sudah menerapkan pembelajaran tematik sebagaimana yang disarankan oleh kurikulum 2006 (KTSP). Pada hari berikutnya, Selasa, 14 Oktober 2008, peneliti mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas dan mencoba mengamati pembelajaran membaca permulaan yang dilakukan guru di kelas. Di awal kegiatan guru menyuruh siswa untuk membuka buku tematiknya, kemudian bersama-sama membaca teks yang ada di buku tersebut, dan dilanjutkan anak membaca teks tersebut satu-persatu di depan kelas. Kegiatan tersebut membuat anak yang belum bisa membaca merasa kesulitan untuk mengikuti pelajaran dan akhirnya anak memilih beraktivitas yang lain daripada mengikuti pelajaran. Saat itu tampak, misalnya, Anto (siswa yang belum bisa membaca) terlihatt asyik menggambar di buku tematiknya, sedangkan Nur memainkan penghapusnya sebagai mobil-mobilan sambil tetap menirukan suara guru membaca teks, beberapa siswa lain juga dengan malas-malasan mengikuti pelajaran hari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Setelah mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru, peneliti dan guru saling bertukar pikiran tentang permasalahan yang dialami guru saat mengajar di kelas. Guru merasakan bahwa minat belajar membaca siswa kelas I rendah. Guru sendri menyatakan bahwa pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam membaca. Sebanyak 35,7% siswa masih membaca dengan mengeja dan terbata-bata, 35,7% siswa sudah mulai dapat membaca dengan tidak terbata-bata namun masih mengeja, dan 28,5% siswa sudah mulai dapat membaca dengan lancar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Upaya untuk membantu guru dalam menanggulangi permasalahan tersebut adalah peneliti memberikan saran agar guru agar menggunakan metode pembelajaran lain dari yang biasa dilakukan guru di kelas tersebut sehingga siswa menjadi tertarik dan semakin aktif dalam pembelajaran membaca. Saat pertemuan tersebut peneliti mencoba menawarkan metode membaca yang diciptakan oleh Stephanie Mueller. Hasil diskusi menyepakati bahwa guru ingin menerapkan metode Mueller dalam pembelajaran membaca permulaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Sebagai langkah awal (sebelum melakukan tindakan) peneliti bersama guru merencanakan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan mengembangkan aspek keterampilan membaca. Kegiatan diawali dengan memilih, menata, dan merepresentasikan materi pelajaran membaca dengan menggunakan metode Mueller. Pemilihan tema sesuai dalam KTSP, tema yang dipilih yaitu tempat umum. Tema ini dipilih dengan alasan cakupan materinya cukup luas, yaitu mengenal tempat-tempat umum, menjaga kebersihan, hidup sehat, saling menghormati, dan menjaga ketertiban. Standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode Mueller tersebut dipresentasikan ke dalam bentuk RPP untuk memudahkan guru melaksanakan tahapan pembelajaran. Bahan baca yang digunakan adalah tulisan yang ada dalam kemasan produk yang sering dijumpai anak. Dalam rangka mengumpulkan kemasan bekas produk, tiga hari sebelum pelaksanaan tindakan, guru menugaskan siswa untuk mengumpulkan kemasan bekas yang dijumpai di rumah. Benda-benda yang dikumpulkan siswa, ditata guru di belakang ruangan kelas menyerupai supermarket. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Siklus I dilaksanakan dalam dua pertemuan. Pertemuan pertama dilakukan pada hari Senin 04 November 2008, pada jam pelajaran ke-1 sampai jam ke-3 (07.00 – 08.45). Pembelajaran diawali dengan salam, berdo’a bersama, dan presensi. Kemudian, guru bertanya pada siswa tentang puskesmas, dan menyampaikan hal-hal yang termasuk tempat-tempat umum. Guru tampak membuka pelajaran dengan santai dan menarik perhatian siswa. Siswa tampak antusias menjawab pertanyaan guru dengan serentak. Namun, saat melakukan tahapan-tahapan pembelajaran tersebut guru tampak masih sering membaca RPP yang diletakkan di meja. Selanjutnya, guru membacakan bacaan yang berjudul sebuah teks. Kemudian, guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan bersama-sama. Guru menjelaskan tata cara berbelanja di supermarket, juga apa saja yang disiapkan sebelum berbelanja, yaitu membuat daftar belanja. Guru membimbing siswa untuk membuat daftar belanja. Guru membuat daftar belanja di papan tulis dan meminta siswa untuk menyalinnya di lembar kerja mereka. Guru membagi siswa menjadi empat kelompok, selanjutnya guru membuat undian untuk menentukan urutan kelompok mana yang melakukan kegiatan belanja lebih dulu. Siswa bergiliran melakukan praktek pergi berbelanja di supermarket yang berada di sudut supermarket yang sudah di siapkan oleh guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Dari kegiatan berbelanja tersebut secara tidak langsung anak melakukan kegiatan membaca kata dan memperoleh makna dari kata yang dibaca. Oleh karena itu, tampak sekali siswa yang sudah bisa membaca dengan lancar dan yang belum bisa membaca. Siswa yang kemampuan membacanya lancar dengan mudah dia memperoleh produk yang sesuai dengan daftar belanja yang telah mereka buat. Sementara itu, siswa yang masih belum lancar kemampuan membacanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencari produk yang dia butuhkan. Selain itu, dengan kegiatan ini siswa tampak antusias mengikuti aktivitas ini. Mereka dengan tidak sabar menunggu giliran untuk berbelanja. Siswa yang sudah melakukan kegiatan berbelanja diminta guru untuk kembali ke tempat duduknya sesuai dengan kelompoknya masing-masing dan menata barang belanjaannya di meja. Setelah semua siswa melakukan kegiatan berbelanja, guru mengajak siswa untuk menuliskan hasil belanjanya di kolom “Hasil Belanjaanku” di Lembar Kerja 1. Kemudian siswa diminta membacakan hasil belanjanya di depan kelas dengan nyaring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Pada pertemuan kedua, Kamis 06 November 2008 pada jam pelajaran ke-1 sampai jam ke-3 (07.00 – 08.45), pembelajaran diawali dengan salam, do’a, dan presensi. Guru mengulas pembelajaran yang dilakukan sebelumnya. Kegiatan berikutnya adalah memilih salah satu barang belanjaan yang disukainya dan berusaha untuk mendeskripsikannya sesuai dengan kondisi benda. Kegiatan ini dimaksudkan anak lebih mengenali banyak ragam tulisan dan kata yang ada dalam kemasan produk tersebut, selain nama produknya. Guru membagikan Lembar Kerja 2 dan menjelaskan cara mengerjakannya. Kemudian, dilanjutkan dengan menceritakan pengalaman berbelanja dengan bantuan mengisi Lembar Kerja 3. Siswa diminta membacakan cerita di depan kelas secara bergilir. Pada tahapan ini guru melakukan penilaian terhadap kemampuan membaca anak dengan menggunakan pedoman penilaian metode Mueller. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Setelah siklus I dilakukan, peneliti melakukan refleksi. Refleksi yang terkait dengan siswa didasarkan pada hasil pengamatan ketika pembelajaran berlangsung. Bahkan, ketika pembelajaran selesai, peneliti mencoba bertanya kepada para siswa bagaimana pendapat mereka tentang pembelajaran dengan menggunakan metode Mueller. Apakah mereka merasa senang dengan kegiatan yang dilakukan, dan apakah siswa memperoleh kemudahan dalam belajar membaca. Pada umumnya siswa mengatakan bahwa mereka senang dengan kegiatan belajar sambil bermain, dan mereka juga merasa senang belajar membaca dari tulisan yang sering mereka jumpai. Selain itu, peneliti juga memperoleh temua bahwa beberapa siswa mengalami kesulitan saat membaca nama produk yang menggunakan ejaan bahasa asing, seperti “lifebuoy”, “frisian flag”, dan “beyond water”. Mereka mengatakan bahwa mereka tahu kalau itu sabun Lifebuoy, tapi mereka bingung mengatakannya ketika mengetahui tulisan yang tidak sama dengan yang mereka dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Berdasarkan hasil observasi dan hasil refeleksi pada siklus I, terutama kekurangan-kekurangan yang ditemukan dalam proses pembelajaran maupun dalam menyusun rencana pembelajaran, diperbaiki dalam siklus II. Siklus II ini direncanakan dalam 2 pertemuan, masing-masingnya terdiri dari 3 x 35 menit, dan menggunakan tema yang sama, namun materi yang disampaikan tidak sama. Materi yang disampaikan pada siklus II adalah mengenal stasiun. Seperti halnya pada siklus I, kompetensi dasar dan materi yang akan disampaikan, dipresentasikan dalam bentuk RPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Sebelum melaksanakan pembelajaran, guru dan peneliti menyiapkan tulisan di sekitar yang sering dijumpai di stasiun. Guru juga mempertimbangkan tulisan yang dipilih adalah tulisan yang menggunakan ejaan Bahasa Indonesia. Tulisan-tulisan tersebut di antaranya adalah loket, tempat sampah, ruang kepala stasiun, jadwal keberangkatan kereta, ruang tunggu, warung, wartel, toilet, dan musholla. Tulisan-tulisan itu kemudiaan diketik dalam font yang besar dan ditempel di beberapa sisi kelas dan juga dibuat font kecil untuk kartu kata. Setiap sisi yang ada tempelan kata disertakan juga kartu kata yang sesuai dengan kata yang tertempel. Tempelan kata pada dinding kelas berfungsi juga sebagai stasiun atau pos. Jadi, pada kegiatan ini direncanakan siswa akan melakukan kegiatan mengelilingi kelas dan berhenti di tiap-tiap pos untuk membaca kata yang ada di pos tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Siklus II dilaksanakan dalam dua pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Rabu, 19 November 2008, pada jam pelajaran pertama sampai jam pelajaran ketiga (07.00 – 08.45). Pembelajaran diawali dengan berbaris di pintu kelas, guru memberi salam, mengajak berdoa bersama, dan presensi. Pada pertemuan kali ini sengaja siswa tidak masuk kelas langsung, pelajaran diawali di depan kelas. Kemudian, guru bertanya pada siswa tentang siapa yang pernah naik kereta api. Guru menjelaskan sekilas tentang tata cara ketika ingin naik kereta api, yaitu harus mengetahui jadwal keberangkatan kereta yang akan ditumpangi, membeli tiket, dan harus tertib saat membeli tiket. Setelah itu, guru menyampaikan kegiatan yang akan mereka lakukan bersama-sama, yaitu berkeliling dengan kereta api untuk mengumpulkan kata. Guru menjelaskan aturan bermainnya. Pertama, setiap siswa harus berpegangan dengan teman di depannya seperti sebuah kereta. Kedua, siswa harus mengumpulkan kata yang ditemui sepanjang perjalanan mengitari kelas. Ketiga, guru membagikan kaleng untuk tempat mengumpulkan kata yang mereka jumpai dalam selama dalam perjalanan. Selanjutnya, siswa memulai melakukan perjalanan dengan diawali melihat jadwal perjalanan pada kegiatan ini guru mengajak siswa untuk membaca jadwal keberangkatan bersam-sama. Kemudian, siswa membeli tiket kereta sesuai tujuan yang diinginkan. Saat membeli tiket guru bertanya pada siswa mereka mau pergi ke mana dan harus naik kereta apa. Pada kegiatan ini tampak sekali siswa yang memperhatikan dan siswa yang bisa membaca, dengan siswa yang tidak memperhatikan dan tidak bisa membaca. Siswa yang bisa membaca dan memperhatikan, dapat dengan mudah menjawab pertanyaan guru saat membeli tiket. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Selanjutnya, siswa melakukan perjalanan dengan menyanyikan lagu Naik Kereta Api. Siswa berhenti pada setiap pos yang telah ditentukan. Satu per satu siswa harus membaca kata yang ada pada pos tersebut. Bagi siswa yang bisa membaca, guru memberikan kartu kata untuk dimasukkan dalam kaleng yang mereka bawa. Sementara salah satu siswa membaca kata yang ada, siswa yang lain mengantri di belakanya dan yang di depan menunggu di depannya dengan tetap berpegangang tangan dan terus menyanyikan lagu Naik Kereta Api. Setelah melakukan perjalanan, mereka duduk di tempat duduknya masing-masing. Guru meminta siswa untuk menata kata yang diperoleh di atas meja masing-masing. Kemudian, guru membagikan dan menjelaskan Lembar Kerja 1 dan Lembar Kerja 2. Siswa menuliskan kata-kata yang mereka peroleh ke dalam Lembar Kerja. Dengan kegiatan tersebut siswa membaca ulang kata yang ditemukan untuk ditulis ke Lembar Kerja yang mereka peroleh. Kemudian, siswa diminta membacakan hasil temuannya di depan kelas secara bergiliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Pertemuan kedua dilaksanakan pada Kamis, 20 November 2008 jam ke-1 sampai dengan jam ke-3 (07.00 – 08.45). Pembelajaran diawali dengan salam, doa, dan presensi. Guru membagikan kembali Lembar Kerja 1 dan 2 beserta kaleng yang berisi temuan kata. Kemudian, guru dan siswa mengulas kata-kata dan menjelaskan fungsi tempat-tempat yang ditemukan dalam perjalanan yang dilakukan dalam pembelajaran sebelumnya. Dengan kegiatan ini siswa memperoleh makna dari tulisan-tulisan yang mereka temui. Selanjutnya guru membagikan Lembar Kerja 3 dan menjelaskan cara mengerjakannya. Setelah selesai siswa mengerjakannya, guru meminta siswa satu-persatu menceritakan pengalaman di stasiun berdasarkan Lembar Kerja 3. Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan memberikan dorongan agar siswa-siswa terus belajar membaca mulai dari tulisan yang ada di sekitar kita dan buku-buku yang mereka miliki. Pada pertemuan kedua ini guru melakukan penilaian terhadap kemampuan membaca permulaan siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Pada siklus II siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dari tahap ke tahap. Mareka sangat antusias dari awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran. Siswa tidak ada yang mengeluh dengan tulisan yang mereka jumpai. Hampir semua siswa dapat membaca kata-kata yang ditemukan. Mereka tampak gembira ketika mendapat satu kata dari guru saat mereka bisa melafalkan kata yang ditemuinya. Hal ini tampak dari hasil wawancara peneliti kepada siswa. Perasaan senang dan tidak mengalami kebingungan pada kata-kata yang sering dijumpai berpengaruh terhadap perolehan nilai mereka. Pada siklus II guru dapat menggunakan waktu sesuai dengan waktu yang dialokasikan di RPP. Guru tampak merasa nyaman dan percaya diri saat melakukan tahapan-tahapan pembelajaran. Hal ini tampak ketika guru tidak lagi bolak-balik membaca RPP untuk melakukan tahapan pembelajaran selanjutnya. Guru melakukan tahapan pembelajaran dengan santai tanpa merasa terbebani dengan RPP. Hal ini tampak ketika guru melakukan improvisasi saat tahapan yang dilalui tidak sama dengan RPP sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan tetap tercapai. Guru pun mampu menjelaskan setiap instruksi dengan jelas sehingga siswa tidak kebingungan. Guru juga mampu mengkondisikan siswa ketika dalam pembelajaran ada siswa yang gaduh dan menganggu temannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Pengembangan RPP Pembelajaran Membaca Permulaan di Kelas I SD dengan Menggunakan Metode Mueller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Penerapan pembelajaran yang kurang variatif dalam proses pembelajaran membaca permulaan akan mengurangi semangat belajar siswa. Pembelajaran membaca permulaan di SDN Leminggir selama ini kurang menarik minat siswa untuk belajar karena pembelajaran hanya berfokus pada buku teks. Padahal, anak usia kelas I SD masih berada pada masa senang bermain (Hurlock, 1978:324). Mueller (2006:11) mengungkapkan bahwa mengajarkan anak membaca dibutuhkan strategi yang sesuai dengan dunia anak yaitu bermain; dengan kata lain belajar dengan suasana yang menyenangkan. Untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, Mueler memanfaatkan tulisan di sekitar anak sebagai alat pengembang kemampuan belajar membaca permulaan. Pemanfaatan tulisan di sekitar dipadukan dengan berbagai aktivitas. Dalam setiap aktivitas (kegiatan pembelajaran), Mueller menyarankan agar guru atau pembimbing mempersiapkan materi dan bahan yang diperlukan dalam setiap kegiatan. Tulisan-tulisan tersebut hendaknya disesuaikan dengan lingkungan anak (Mueller, 2006:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Berdasarkan temuan yang diperoleh, guru sudah melaksanakan persiapan materi dan bahan. Persiapan awal, yang dilakukan guru adalah memahami hakikat metode Mueller, kemudian memilih aktivitas yang sesuai dengan tema pembelajaran saat tindakan berlangsung. Aktivitas yang dipilih guru adalah menghubungkan tulisan di sekitar kita dengan permainan drama, blok, bangunan, papan pengumuman, rumah dan sekolah. Selanjutnya, untuk memudahkan guru dalam kegiatan pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan metode Mueller direpresentasikan ke dalam RPP. RPP tersebut memuat standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator berdasarkan KTSP, dan materi yang disampaikan pada kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup. Semuanya ditata runtut dan terpadu, lengkap dengan media apa saja yang harus disiapkan dan lembar kerja yang digunakan untuk menilai kemampuan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Kegiatan pembelajaran membaca permulaan dengan metode Mueller diawali dengan mengenalkan kata dan huruf yang menyusunnya melalui tulisan-tulisan di sekitar siswa. Pada penelitian ini, tindakan yang diberikan pada siklus I adalah siswa diajak membaca tulisan pada kemasan sebuah produk dengan aktivitas toko kebutuhan sehari-hari, sedangkan siklus II siswa membaca tulisan yang ditemui di stasiun dengan aktivitas pelajaran berkeliling kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Sesuai dengan tema yang dipilih pada siklus I dan II, persiapan yang dilakukan guru adalah mengumpulkan kemasan berbagai macam produk yang sering dijumpai anak dan mengumpulkan tulisan-tulisan yang dijumpai di stasiun. Pada saat mengumpulkan kemasan berbagai macam produk, guru melibatkan siswa dengan cara menyuruh anak-anak membawa kemasan produk dari rumah. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Mueller (2006:8), bahwa dalam rangka mengungkapkan tulisan di sekitar hendaknya melibatkan anak. Selain itu, guru juga meminjam berbagai macam kemasan pada sudut belanja yang dimiliki kelas 3 dan 4. Setelah kemasan produk yang dibutuhkan cukup, guru menatanya seperti di supermarket sesuai dengan klasifikasi tertentu. Pada siklus II guru membuat beberapa kartu kata yang berhubungan dengan kata yang sering dijumpai di stasiun, membuat tiket, dan membuat jadwal keberangkatan kereta api. Penelitian ini membuktikan bahwa pemilihan materi, metode yang sesuai dan penataan rencanaan pelaksanaan pembelajaran yang baik memudahkan guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan hasil yang diperoleh pun maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Permulaan di Kelas I SD dengan Menggunakan Metode Mueller.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Psikolog Jean Piaget (dalam Mueller, 2006:7) mengungkapkan bahwa pertumbuhan kognitif bergerak dari yang konkret ke yang abstrak. Begitu pula perkembangan kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan baca-tulis anak berawal dari tulisan-tulisan yang konkret dan yangsering ditemukan di dunia anak, seperti pada mainan kesukaannya, simbol-simbol pada tempat makanan, serta buku bergambar (Mueller, 2006:7). Oleh karena itu, dalam penelitian ini penelti mencoba untuk menggunakan metode Mueller untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Hasil temuan yang di peroleh dalam siklus I menunjukkan bahwa pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode Mueller ini dapat meningkatkan kemampuan membaca pemulaan siswa, juga dapat menumbuhkan semangat siswa untuk belajar membaca. Hal ini tampak pada nilai yang diperoleh siswa ada peningkatan dibandingkan sebelum adanya tindakan pembelajaran dengan metode Mueller. Namun, pada pembelajaran ini belum bisa dikatakan mencapai hasil maksimal, karena ketuntasan belajar kelas belum mencapai 85%, yaitu masih 78%. Pada tahap refleksi ditemukan beberapa hal yang menyebabkan ketuntasan kelas tidak bisa tercapai. Hal tersebut di antaranya adalah (1) guru merasa canggung saat pembelajaran karena guru belum terbiasa menggunakan metode Mueller, (2) beberapa instruksi yang diberikan guru untuk siswa kurang jelas sehingga siswa kebingungan dan bertanya-tanya pada guru yang berakibat kelas gaduh, (3) pengorganisasian waktu kurang sehingga tindakan pada siklus I ada penambahan waktu 15 menit, dan (4) beberapa siswa merasa kesulitan membaca saat menemukan produk yang namanya menggunakan ejaan bahasa asing, misalnya Lifebouy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Temuan yang di peroleh pada siklus II adalah (1) guru sudah tampak nyaman melaksanakan pembelajaran; (2) guru tampak menjelaskan materi dan tahapan-tahapan kegiatan dengan jelas sehingga waktu dapat dimanfaatkan dengan baik dan maksimal karena guru tidak perlu menjelaskan berulang-ulang; (3) siswa tidak mengalami kesulitan membaca kata-kata yang ditemukan karena kata-kata yang dipilih merupakan kata-kata yang menggunakan ejaan bahasa Indonesia. Adanya perubahan tersebut berpengaruh juga terhadap kemampuan membaca siswa. Tampak sekali perubahan pada perolehan nilai. Perubahan tersebut juga berpengaruh pada ketuntasan hasil belajar kelas yang bisa mencapai 90%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Melihat tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan guru dan hasilnya, tampak bahwa metode Mueller sesuai dan cocok untuk diterapkan pada pembelajaran membaca permulaan di SD. Adanya kesesuaian tersebut karena guru merancang pembelajaran metode Mueler ini dilandaskan pada perkembangan bahasa anak, sebagaimana yang diungkakan Mueller (2006:17) bahwa perkembangan bahasa anak usia kelas I SD meliputi, (1) membaca dan menceritakan kembali cerita dan sajak yang sudah dikenal; (2) membaca dan menulis cerita, daftar, catatan, dan lain-lain; (3) menggunakan strategi membaca, seperti, membuat perkiraan, pertanyaan, dan membaca ulang untuk mengenali teks; (4) membaca beberapa teks dengan diucapkan; (5) mencari arti kata-kata baru dengan menggunakan hubungan antar huruf dan bunyi, bagian kata, dan konteksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Kegiatan pembelajaran membaca permulaan dengan metode Mueller ini pun mampu menumbuhkan semangat belajar membaca anak. Anak tampak antusias mengikuti tahapan-tahapan kegiatan yang diberikan. Anak juga merasa tidak bosan, mereka tampak gembira saat mengikuti setiap kegiatan. Perubahan ini juga tampak pada kemampuan membaca anak. Beberapa siswa yang sebelumnya membaca dengan mengeja dan terbata-bata, setelah adanya tindakan dengan metode Mueller siswa-siswa tersebut dapat membaca tanpa mengeja dan tidak terbata-bata. Hal ini tampak pada perubahan nilai yang diperoleh anak dalam kemampuan membaca dan hasil interview dengan siswa setelah melaksanakan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Penilaian Pembelajaran Membaca Permulaan di Kelas I SD dengan Menggunakan Metode Mueller.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Penilaian (assessment) adalah proses untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa. Hasil penilaian ini dapat dijadikan dasar untuk menentukan tindakan/pelakuan selanjutnya (Tarigan, 2003:226). Slamet (2007: 112) berpendapat bahwa evaluasi merupakan alat untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Untuk meningkatkan pembelajaran membaca permulaan dengan metode Mueller digunakan penilaian dengan teknik tes unjuk kerja. Pelaksanaan penilaian pembelajaran membaca permulaan dilaksanakan secara perseorangan. Tes yang digunakan adalah tes buatan guru. Materi tes yang diberikan disesuaikan dengan indikator pencapaian dalam metode Mueller. Sebagaimana yang diungkapkan Slamet (2007:106), tes ini dimaksudkan untuk menilai sampai dimana penguasaan siswa terhadap pembelajaran membaca permulaan dengan metode Mueller, dan juga menetapkan apakah seorang berhasil mencapai sekumpulan tujuan pembelajaran atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Tes yang dilakukan guru ini juga disesuaikan dengan perkembangan anak usia SD. Seperti yang diungkapkan Mueller (2006:17), perkembangan bahasa anak usia kelas I SD meliputi (1) membaca dan menceritakan kembali cerita dan sajak yang sudah dikenal; (2) membaca dan menulis cerita, daftar, catatan, dan lain-lain; (3) menggunakan strategi membaca, seperti, membuat perkiraan, pertanyaan, dan membaca ulang untuk mengenali teks; (4) membaca beberapa teks dengan diucapkan; dan (5) mencari arti kata-kata baru dengan menggunakan hubungan antar huruf dan bunyi, bagian kata, dan konteksnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Apabila diperhatikan, hasil evaluasi pada Siklus I menunjukkan pencapaian ketuntasan belajar kelas hanya 78%, yang berarti ketuntasan kelas belum tercapai. Hal ini berarti juga bahwa pembelajaran membaca dengan metode Mueller pada Siklus I belum bisa menunjukan hasil yang maksimal. Untuk itu, guru dan peneliti mencari penyebab ketidaktuntasan tersebut. Setelah dilakukan refleksi dan diketahui faktor penyebab kelemahan pada Siklus I, dilakukanlah rancangan perbaikan tindakan lanjutan pada Siklus II yang dikemas dalam RPP. Akhirnya, hasil evaluasi Silklus II menunjukan pencapaian ketuntasan belajar 90%, yang berarti ketuntasan kelas tercapai secara maksimal karena melebihi SKM yang telah dipatok sekolah, yaitu 85%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;SIMPULAN DAN SARAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kesimpulan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Guru telah melaksanakan persiapan sebelum melakukan tindakan, yaitu menginterpretasikan materi pembelajaran dengan metode Mueller dalam bentuk RPP. Guru juga menyiapkan benda-benda yang dibutuhkan dalam pembelajaran dengan melibatkan siswa seperti halnya yang disarankan Mueller. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Peningkatan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I dengan metode Mueller ini dilakukan guru dengan menggabungkan beberapa aktivitas dalam metode Mueller. Untuk memudahkan siswa, guru menggunakan tulisan dengan ejaan Bahasa Indonesia, dan guru juga melakukan tahapan-tahapan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak seperti yang diutarakan Mueller. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan diketahui dari kemampuan siswa saat melafalkan tulisan pada lembar kerja yang yang diberikan. Beberapa siswa yang sebelumnya membaca dengan mengeja, setelah diberi tindakan pembelajaran dengan metode Mueller mengalami kemajuan. Perubahan juga dapat dilihat dari tumbuhnya antusias dan semangat anak untuk mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Hasil evaluasi menunjukkan ada peningkatan kemampuan membaca siswa kelas I. Hal itu dapat dilihat dari nilai yang diperoleh ketika siswa membacakan hasil kerjanya. Pencapaian ketuntasan hasil belajar kelas meningkat dari 78% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saran&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Mueller dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I. Oleh karena itu, metode ini dapat dijadikan salah satu pilihan dalam pembelajaran membaca permulaan yang menyenangkan. Peneliti lain dapat memanfaatkan metode ini dengan memvariasikan aktivitas yang berbeda, yang disesuaikan dengan kondisi perkembangan dan lingkungan siswa, sebab metode Mueller menawarkan begitu banyak pilihan aktivitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Penelitian ini menggunakan subjek kelas kecil. Apabila pada penelitian sejenis menggunakan subjek sasaran kelas besar akan lebih baik. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa metode Mueller dikembangkan tidak hanya untuk pembelajaran di kelas kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR RUJUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Adler, Mortimer J. 2007. How to Read a Book. Jakarta: PT. Indonesia Publishing.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anwar, Khairil. 1997. Pelaksanaan Latihan Membaca Permulaan di Sekolah Dasar Negeri Kotamdya Banjarmasin. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Arifin, Samsul. 2004. Penggunaan Metode Motessori dalam Pengajaran Membaca Pemulaan di TK Palm Kids. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Arikunto, Suharsimi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dasna, I Wayan. 2007. Penelitian Tindakan Kelas dan Karya Ilmiah. Malang: BPSG.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Depdikbud. 1991/1992. Petunjuk Teknis Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Depdiknas. 2006. Model Penilaian Kelas KTSP SD/MI. Jakarta: Depdiknas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Depdiknas. 2006. Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) : SD kelas I – IV. Jakarta: Depdiknas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Goodchild, Rachel. 2004. The Joy of Reading. Jakarata: PT Elex Media Komputindo&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harris A.J dan Edward R. Sipay. 1980. How to Increase Reading Ability. New York : Longman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hurlock. 1978. Perkembangan Anak: Jilid I. Jakarta: Erlangga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ibrahim, dkk. 2000. Media Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Moleong, L.J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mueller, Stephanie. 2006. Panduan Belajar Membaca Jilid 1 dengan Benda-benda di Sekitar Kita untuk Anak usia 3-8 Tahun. Jakarta: Erlangga for Kids.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mueller, Stephanie. 2006. Panduan Belajar Membaca Jilid 2 dengan Benda-benda di Sekitar Kita untuk Anak usia 3-8 Tahun. Jakarta: Erlangga for Kids.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pattiha, Hawa. 2006. Penerapan strategi Think-Pair-Share dalam Meningkatkan Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Permulaan pada Siswa Kelas II SDN Sumbesari II Malang. Thesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rahim, Farida. 2007. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Slamet, St. Y. 2007. Dasar-dasar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar. Surakarta: LPP UNS dan UNS Press. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Soedarso. 2001. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sulistyarini, Dian. 2007. Peningkatan Pembelajaran Membaca dan Menulis Permlaan dengan Menggunakan Media Kotak Ajaib sebagai Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan) pada Siswa Kelas I SD Negeri Jatra Timur Banyuates Sampang. Skiripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tarigan, Djago. 2003. Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Di Kelas Rendah. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Vacca, Jo Anne. 1991. Reading and Learning to Read. New York: Harper Collins Publisher.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wardani, I GAK. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wiriaatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wiryodijoyo, Suwaryono. 1989. Membaca Strategi Pengantar dan Tekniknya. Depdikbud.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yus, Anita. 2006. Penilaian Portofolio Untuk Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-4279410127753225050?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/4279410127753225050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=4279410127753225050' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/4279410127753225050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/4279410127753225050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2010/03/upaya-peningkatan-kemampuan-membaca.html' title='UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SD DENGAN METODE MUELLER'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-8252090943356165034</id><published>2009-10-22T02:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T02:22:08.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anda Bertanya Saya Menjawab'/><title type='text'>Jumlah Siklus dan Jenis Evaluasi dalam PTK</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan pertanayaan dari Evi (mahasiswa Unesa) yang sedang mengadakan PTK sebagai topik skripsinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Inilah pertanyaannya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Askum Pak Masnur,&lt;br /&gt;Pak saya punya 3 pertanyaan:&lt;br /&gt;1. Saya ngukur hasil belajarnya dr lks pqpr yg sy buat dan kuis, kira2 bisa nggak, Pak?&lt;br /&gt;2. PTK kan minimal 3 putaran,cboleh nggak Pak pakai 2 KD? Soalnya di silabus materinya 1 KD cuma 2 tatap muka.&lt;br /&gt;3. Hasil belajar itu kuantitatif atau kualitatif Pak? Saya bingung di skripsi dan jurnal ada pengukuran hasil belajar pakai ketuntasan klasikal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasslam, Evi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Inilah jawaban saya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waalaikum salam.&lt;br /&gt;Sdr. Evi, saya mencoba menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hasil belajar daat diukur melalui apa saja (termasuk lewat LKS) asal butir-butir soalnya sesuai dengan indikator yang mengacu pada KD yang ingin dicapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. - Kata siapa PTK harus 3 putaran/siklus? Dua atau tiga siklus pun boleh saja asal sudah menunjukkan peningkatan hasil belajar atau ketuntasan hasil belajar.&lt;br /&gt;    - Fokus PTK adalah perbaikan strategi pembelajaran. Oleh karena itu, jumlah KD tidak menjadi masalah. Yang penting, dalam pelaksanaanya harus per KD. Misalnya, putaran 1 membelajarkan KD 1, putaran 2 membelajarkan KD 2, dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. - Hasil belajar bisa berupa kuan dan kua. Kuan masih dalam taraf pengukuran/measurement, sedangkan kua sudah dalam taraf penilaian/evaluation. (Kuasai dulun kedua konsep tersebut!).&lt;br /&gt;   - PTK melihat hasil belajar secara klasikal. Oleh karena itu, ketuntasan belajarnya pun bersifat klasikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masnur Muslich&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-8252090943356165034?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/8252090943356165034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=8252090943356165034' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/8252090943356165034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/8252090943356165034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2009/10/jumlah-siklus-dan-jenis-evaluasi-dalam.html' title='Jumlah Siklus dan Jenis Evaluasi dalam PTK'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-2903430248727399701</id><published>2009-09-23T10:14:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T10:24:30.126-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anda Bertanya Saya Menjawab'/><title type='text'>Komentar Laporan Penelitin Tindakan Kelas oleh Neneng</title><content type='html'>Sdr. Neneng, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini saya sampaikan beberapa catatan yang perlu Anda perhatikan terkait dengan laporan PTK Anda (terlamir di bawah ini). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hasil observasi awal belum dideskripsikan, terutama kondisi kelas. &lt;br /&gt;2. Mengapa dicantumkan kata “intervensi” pada “hasil intervensi tindakan”? Saya kira tidak perlu. &lt;br /&gt;3. RPP dan Materi pada Siklus I sebaiknya dilampirkan sehingga diketahui sosok utuhnya. &lt;br /&gt;4. Isi deskripsi pada kelima pertemuan pada siklus I belum tecemin gambaran pelaksanaan pembelajarannya. Anda hanya berfokus pada hasil pembelajaran. &lt;br /&gt;5. Pada Refleksi Siklus I, Anda sudah sudah menemukan beberapa masalah yang hasrus diperbaiki pada Siklus II, misalnya kelas gaduh, setting tempat bermain kurang representatif, banyak siswa melakukan kesalahan dalam bermain, dan kekurangan waktu untuk membahas kata-kata yang terbentuk selama permainan. Temuan ini akan lebih jelas kalau dalam deskripsi pada kelima pertemuan siklus I Anda cantum proses pelaksanaannya. &lt;br /&gt;6. Catatan 3, 4, dan 5 juga berlaku untuk Siklus II. &lt;br /&gt;7. Butir B Keabsahan data mestinya tidak dijabarkan di bab ini, tetapi di bab sebelumnya, yaitu Bab III Metode dan Teknik. &lt;br /&gt;8. PTK merupakan salah satu aplikasi dari penelitian kualitatif. Oleh karena itu, analisis datanya harus berbasis kualitatif, bukan kuantitatif. Berdasarkan pemikiran tersebut, saya merasa kurang pas kalau datanya Anda analisis dengan model SPSS. Saya lebih pas kalau dianalisis secara kualitatif saja. &lt;br /&gt;9. Pada bagian E Pembahasan, Anda mestinya mempertarungkan antara temuan hasil penelitian dengan teori yang Anda pakai pada Bab II. Konkretnya, apa temuan Anda telah sesuai dengan teori yang Anda anut , atau bahkan sebaliknya? Kalau Anda berhasil mempertemukannya, berarti Anda hebat. Saya tidak segan-segan memberikan nilai A. Di sinilah kadar kompetensi peneliti benar-benar terlihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Selamat mengerjakan tugas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masnur Muslich&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lampiran Laporan Penelitian Neneng&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI ANALISIS DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Deskripsi Data Hasil Pengamatan Efek/Hasil Intervensi Tindakan&lt;br /&gt;1. Deskripsi Studi Pendahuluan &lt;br /&gt;Untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menulis kata bahasa Inggris, peneliti dibantu oleh kolaborator yang juga merupakan guru bidang studi Bahasa Inggris kelas IV A melakukan observasi awal dan dilanjutkan dengan tes kemampuan awal. &lt;br /&gt;Kegiatan observasi awal ini dilaksanakan Jum’at, 1 Mei 2009 pukul 07.00 –  07.45 WIB.  Peneliti memberikan sejumlah soal dengan materi yang berhubungan dengan Numbers, Parts of Body, Activities dan Colours. &lt;br /&gt;Dari hasil tes pada kegiatan pratindakan diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan ejaan yang benar dan merasa jenuh jika hanya diminta untuk menulis atau menyalin kata yang diperintahkan oleh guru tanpa diberikan kegiatan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;Berdasarkan temuan pada tahap pratindakan tersebut, akhirnya peneliti bersama dengan guru kolaborator merumuskan alternatif tindakan dan menyusun rancangan pembelajaran menulis kata menggunakan teknik permainan.&lt;br /&gt;Hasil diskusi antara peneliti dengan guru kolaborator memperoleh kesepakatan bahwa:&lt;br /&gt;a. Butir-butir pembelajaran yang disajikan tetap mengacu pada kurikulum dan diselaraskan dengan buku teks yang selama ini digunakan guru, namun materi pembelajaran dan media yang digunakan diambil dari sumber lain untuk variasi;&lt;br /&gt;b. Teknik permainan digunakan sebagai variasi teknik pembelajaran agar tidak monoton dan dapat menarik perhatian siswa;&lt;br /&gt;c. Peneliti memberikan panduan dalam kegiatan menulis kata menggunakan teknik permainan sehingga siswa dapat memahami dengan jelas bentuk dan tujuan permainan tersebut dalam peningkatan keterampilan menulis kata mereka.  &lt;br /&gt;2. Deskripsi Hasil Intervensi Tindakan Siklus I &lt;br /&gt;Setelah mengetahui hasil belajar kemampuan menulis kata bahasa Inggris siswa sejak awal, kemudian disusun perencanaan program berupa tindakan, observasi dan refleksi yang akan diterapkan kepada siswa hingga menghasilkan penyusunan pembelajaran yang diharapkan dan dapat memperoleh penrkembangan hasil belajar menulis kata bahasa Inggris siswa seperti yang diharapkan. Pada proses akhir Siklus I ini, tindakan dan refleksi yang digunakan untuk mengetahui letak kesalahan penerapan program perencanaan dan kekurangan yang muncul dianalisis untuk mengetahui hubungan penerapan strategi, pemberian materi, penerapan metode dan pemanfaatan media dalam pembelajaran menulis kata bahasa Inggris berikutnya. &lt;br /&gt;2.1. Pertemuan Pertama (Selasa, 5 Mei 2009)&lt;br /&gt;Materi pada pertemuan pertama ini adalah Body Parts. Pertemuan pertama difokuskan pada pembelajaran menulis huruf-huruf yang masih dianggap sulit. Dari hasil prates ditemukan beberapa kata yang masih dianggap sulit sehingga masih terdapat kesalahan di dalam penulisannya. Misalnya:   this    ditulis   dis&lt;br /&gt;  tall  ditulis  tol&lt;br /&gt;  have  ditulis  hev&lt;br /&gt;eyes  ditulis  ays&lt;br /&gt;nose  ditulis  nos&lt;br /&gt;black  ditulis  blek&lt;br /&gt;white  ditulis  wait&lt;br /&gt;Sebagian besar siswa nampaknya masih terpengaruh dengan ejaan dalam bahasa Indonesia. Karena itu pada pertemuan ini difokuskan pada pembelajaran menulis dan mengeja huruf-huruf. Bentuk kegiatan pembelajarannya  adalah menyuruh siswa menyempurnakan kata-kata yang belum sempurna penulisannya. Kegiatan ini dikenal dengan metode rumpang, misalnya mereka diminta untuk menuliskan huruf c dan k dari susunan yang belum sempurna ne_ _ menjadi neck. Namun kondisi pada pertemuan pertama ini  banyak siswa yang masih sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing, mereka masih belum sepenuhnya konsentrasi dan masih kurang semangat.&lt;br /&gt;Peneliti menyarankan supaya lebih menyenangkan diberikan metode bernyanyi supaya mereka lebih tertarik.  Akhirnya guru kolaborator dan peneliti bergantian memimpin kegiatan bernyanyi. Lagu yang diberikan adalah ”Head, Shoulders, Knees and Toes” disesuaikan dengan materi Body Parts. Setelah itu diberikan permainan Simon Says. Guru dan peneliti bergantian memimpin permainan ini. Siswa nampak sangat senang dan bergairah dalam belajar. Mereka tertawa jika ada teman mereka yang  melakukan kesalahan karena terkecoh dengan gerakan guru atau peneliti.&lt;br /&gt;2.2. Pertemuan Kedua (Rabu, 6 Mei 2009)&lt;br /&gt;Sesuai dengan rencana pembelajaran, guru menggunakan teknik tanya jawab untuk memicu antusiasme siswa dalam belajar. Guru menunjukkan gambar seorang anak sambil bertanya, ”What picture is this?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa menjawab beragam, antara lain gambar manusia, gambar anak kecil dan gambar anak yang lucu. Guru menjelaskan bahwa semua jawaban mereka betul. Guru menambahkan bahwa hari ini mereka akan belajar tentang  Body Parts.&lt;br /&gt;Kali ini siswa diminta memasangkan nama anggota tubuh dengan gambar yang tepat  misalnya:    untuk   eye.  Siswa  kemudian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendiskusikan gambar-gambar tersebut dengan temannya tentang penulisan nama anggota tubuh yang tepat kemudian memasangkan gambar yang tepat. Siswa kemudian bergiliran menuliskannya di papan tulis. Sebagian siswa sudah mengetahui penulisannya dengan baik dan benar. Namun sebagian besar masih belum tepat, misalnya nose masih ditulis nos. &lt;br /&gt;2.3. Pertemuan Ketiga (Jum’at, 8 Mei  2009)&lt;br /&gt;Materi yang diajarkan adalah Things in the Classroom. Dalam kegiatan pembelajaran ini siswa masih diminta untuk menyusun huruf-huruf yang membentuk kata-kata yang berhubungan dengan benda-benda di kelas. Kali ini jenis permainan yang digunakan adalah Crossword Puzzles dengan bantuan gambar juga kegiatan memasangkan gambar dengan nama benda-benda di kelas.  &lt;br /&gt;2.4. Pertemuan Keempat (Jum’at, 15 Mei 2009)&lt;br /&gt;Setelah diberikan materi tentang Things in the Classroom, pada pertemuan kali ini  diberikan materi tentang Colours. Siswa diminta untuk memberi warna pada sejumlah gambar benda kemudian menyusun nama warna sesuai dengan urutan alfabetnya. Setelah itu dilanjutkan dengan Wordsearch, siswa diminta mencari dan menuliskan 10 nama warna yang disembunyikan dalam susunan huruf-huruf yang diacak dengan tujuan untuk mengecoh siswa. &lt;br /&gt;2.5. Pertemuan Kelima (Selasa, 19 Mei 2009)&lt;br /&gt;Pada pertemuan ini, diberikan permainan Anagram yang telah dimodifikasi menggunakan kartu-kartu alfabet. Guru membentuk tiga kelompok. Tiap kelompok diberikan huruf-huruf yang membentuk kata LANGUAGE, CUPBOARD, GRASSHOPPER, AIRPLANE dan TRANSPORTATION. Dari huruf-huruf tersebut tiap kelompok diminta membentuk kata lain yang berhubungan dengan Body Parts, Colours dan materi lain. Saat permainan berlangsung, timbul kegaduhan. Setelah pembelajaran selesai kemudian siswa diberikan soal untuk mengetahui kemajuan yang siswa capai di Siklus I ini. &lt;br /&gt;3. Refleksi Siklus I  &lt;br /&gt;Pada siklus I Peneliti bersama kolaborator merancang kegiatan memasangkan kata dengan gambar anggota tubuh, permainan Simon Says, Crossword Puzzles, Wordsearch, Anagram dan kegiatan bernyanyi dengan judul lagu ”Head, Shoulders, Knees and Toes.” Peneliti dan kolaborator menganggap kegiatan-kegiatan tersebut tepat diberikan  untuk mencairkan suasana.&lt;br /&gt;Dari beberapa indikator di atas, ada beberapa masalah yang dapat dicatat selama pembelajaran, antara lain: kelas gaduh, setting tempat bermain kurang representatif, banyak siswa melakukan kesalahan dalam bermain, dan kekurangan waktu untuk membahas kata-kata yang terbentuk selama permainan.&lt;br /&gt;Untuk mengurangi masalah-masalah tersebut, pada Siklus II dilakukan tindakan, antara lain: memberikan pengertian pada siswa bahwa mereka bermain dalam rangka belajar, menyusun tempat bermain lebih baik, menuliskan aturan permainan di papan tulis, dan menambah waktu untuk pembahasan kata-kata yang terbentuk selama permainan berlangsung.&lt;br /&gt;4. Deskripsi Hasil Intervensi Tindakan Siklus II &lt;br /&gt;Perencanaan materi pembelajaran bahasa Inggris khususnya dalam meningkatkan keterampilan menulis kata bahasa Inggris melalui permainan bahasa yang diberikan  harus lebih menarik. Kegiatan perencanaan ulang ini bertujuan agar siswa dapat memperbaiki hasil peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris melalui permainan bahasa pada siklus sebelumnya.&lt;br /&gt;Materi yang disampaikan dalam Siklus II ini lebih terfokus sehingga hal-hal yang masih kurang pada Siklus I dapat diperbaiki, diperjelas penyampaiannya dan ditingkatkan untuk memberikan penjelasan-penjelasan yang lebih menarik dan meningkatkan pemahaman siswa kelas IV A yang berjumlah 34 orang. &lt;br /&gt;4.1. Pertemuan Pertama (Rabu, 20 Mei 2009)&lt;br /&gt;Materi tentang Numbers diajarkan pada pertemuan kali ini. Siswa diminta untuk menuliskan huruf-huruf yang menyusun angka-angka 10, 13, 17, 25, 20 dan 30 dengan cara menyempurnakan tabel lalu siswa diminta menuliskan bentuk angka dan penulisan hurufnya. Tujuannya agar guru mengetahui apakah siswa telah memahami penulisan satuan, belasan dan puluhan dalam bahasa Inggris.  &lt;br /&gt;4.2. Pertemuan Kedua (Jum’at, 22 Mei 2009)&lt;br /&gt;Materi tentang Activities diberikan dalam Siklus II. Di sini siswa diberikan Guessing Game. Guru membagi siswa menjadi dua kelompok. Tiap kelompok harus menunjuk satu orang perwakilan yang akan mendemonsrasikan kegiatan yang dilakukan, setelah itu anggota kelompoknya harus menebak kegiatan yang sedang diperagakan tersebut sambil menuliskannya di papan tulis. Kegiatan menulis di papan tulis dimaksudkan agar guru dan peneliti dapat mengetahui apakah siswa sudah tepat menulisan kata-katanya. Setelah bermain, siswa bernyanyi bersama dengan judul lagu Brother Jhon.&lt;br /&gt;4.3. Pertemuan Ketiga (Jum’at 29 Mei 2009)&lt;br /&gt;Karena timbulnya kegaduhan yang terjadi saat pelaksanaan kegiatan bermain di dalam kelas, maka untuk mengantisipasinya kegiatan bermain kali ini dilakukan di luar kelas yaitu di lapangan olah raga. Selain agar tidak terlalu gaduh dan mengganggu kelas di sebelah, juga untuk membuat siswa tidak jenuh dengan situasi belajar yang selalu di dalam kelas. Kegiatan kali ini adalah permainan Fill in the Stairs yang dilakukan secara berkelompok. Di sini siswa diminta untuk membuat kata baru dengan cara menyambung akhir huruf kata sebelumnya dengan huruf baru untuk membentuk kata baru lainnya, misalnya CAT, TIE, EAR. &lt;br /&gt;4.4. Pertemuan Keempat (Selasa, 2 Juni  2009)&lt;br /&gt;Pada pertemuan keempat ini siswa bermain Alphabet in the Cup. Di sini siswa harus membuat kata baru yang diawali dengan huruf akhir kata sebelumnya. Permainan ini dilakukan secara individu. Guru memulai dengan memberikan kata PEN, lalu siswa yang diberi giliran selanjutnya harus membuat kata baru yang diawali huruf N. Siswa nampak senang namun harap-harap cemas karena jika mereka tidak konsentrasi lalu membuat kata yang sudah dibuat oleh temannya maka siswa tersebut harus dihukum atau dikeluarkan dari barisan.&lt;br /&gt;4.5. Pertemuan Kelima (Rabu, 3 Juni 2009)&lt;br /&gt;Penyampaian materi pada pertemuan kali ini adalah mengulang materi pada pertemuan sebelumnya dengan menebak gambar dan menjawab pertanyaan dengan lisan. Selesai mengulang materi, siswa kemudian bernyanyi bersama dengan sangat riangnya. Lagu kali ini adalah lagu pilihan siswa yaitu The Wheels on the Bus. &lt;br /&gt;5. Refleksi Siklus II &lt;br /&gt;Dari hasil observasi selama siklus dua berlangsung, didapatkan kondisi berikut ini: pembelajaran berjalan lebih menyenangkan dan lebih variatif, siswa semakin antusias dalam permainan, terjadinya tutor sebaya, beberapa kelompok siswa meminjam kartu untuk dimainkan pada saat-saat senggang, serta siswa lebih mudah mempelajari penulisan kata dalam bahasa Inggris. Hal-hal negatif yang berhasil direkam antara lain: pengaturan siswa masih agak sulit dilakukan karena masih ada yang senang memperhatikan siswa kelas lain yang sedang berolah raga.&lt;br /&gt;B. Pemeriksaan Keabsahan Data&lt;br /&gt;Pada pelaksanaan penelitian ini, peneliti melaksanakan pengamatan langsung serta wawancara dengan subyek penelitian dimana pengamatan tersebut dilakukan untuk meyakinkan kebenaran data yang diperoleh dari sumber data.&lt;br /&gt;Pemeriksaan keabsahan data bertujuan untuk memastikan bahwa data yang telah terkumpul memiliki keabsahan dan memiliki tingkat keterpercayaan yang tinggi. Untuk keperluan keabsahan data tersebut peneliti menetapkan langkah berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kredibilitas&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kriteria kredibiltas, penulis melakukan perpanjangan keikutsertaan dalam penelitian, tekun dalam pengamatan, triangulasi dan pengecekan dengan guru lain. &lt;br /&gt;Agar data yang diperoleh dalam catatan lapangan menggambarkan kondisi objektif, maka peneliti tidak melewatkan setiap kesempatan dalam proses pembelajaran, mulai sejak awal hingga akhir pembelajaran dalam setiap kegiatan pembelajaran. Data yang terkumpul berdasarkan pada acuan teori yang peneliti terapkan dalam penelitian, yaitu dalam mengumpulkan data, mulai dari persiapan, proses hasil hingga analisis data.&lt;br /&gt;Untuk  memastikan apakah data berkecukupan, maka peneliti meminta penjelasan guru lain atau kolaborator untuk mengecek dan meminta tambahan saran untuk melengkapi data.&lt;br /&gt;2. Uraian Rinci&lt;br /&gt;Agar data bisa dipahami oleha semua orang, maka peneliti menggunakan secara rinci setiap data yang terkumpul, baik data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Uraian rinci di antaranya adalah peneliti mencatat sumber data, waktu dan tempat serta deskripsi data secara rinci, searah dengan fokus penelitian.&lt;br /&gt;3. Koding (pengkodean) Data&lt;br /&gt;Data dari hasil penelitian terdiri dari data proses dan data hasil. Data proses tertuang dalam catatan lapangan, hasil observasi dan wawancara. Sedangkan data hasil berupa skor nilai siswa hasil pra tindakan, tes siklus  I dan siklus II. Untuk lebih jelasnya peneliti memberi kode pada setiap data, seperti dalam tabel berikut:&lt;br /&gt;Tabel 2 : Tabel Kode&lt;br /&gt;NO KODING KETERANGAN&lt;br /&gt;1. CL. 01-05 Catatan Lapangan hasil observasi, catatan lapangan yang mendeskripsikan  proses pembelajaran&lt;br /&gt;2. CW Catatan hasil wawancara&lt;br /&gt;3. Nt-1 Skor nilai hasil tes pra tindakan&lt;br /&gt;4. Nt-2 Skor nilai hasil siklus I&lt;br /&gt;5. Nt-3 Skor nilai hasil siklu II&lt;br /&gt;6. NP.01-05 Rata-rata nilai dari pertemuan Siklus I dan Siklus II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Analisis Data &lt;br /&gt;1. Analisis Data Siklus I &lt;br /&gt;Hasil Penilaian terhadap Peningkatan Kemampuan Menulis Kata Bahasa Inggris melalui Permainan Bahasa&lt;br /&gt;Setelah pelaksanaan tindakan, maka dilakukan pengamatan kembali terhadap keterampilan siswa menulis kata bahasa Inggris melalui permainan bahasa. Kegiatan pengamatan dilakukan bersama kolaborator untuk melihat perubahan atau perbaikan setelah diadakan kegiatan belajar mengajar menulis kata bahasa Inggris melalui permainan bahasa di kelas IV A SD IKKT. Hasil penilaian pada Siklus I menunjukkan jumlah nilai rata-rata 1,4. Untuk lebih jelasnya berikut akan ditampilkan ke dalam bentuk tabel. ........................................................................................&lt;br /&gt;Tabel 3:   Nilai   Rata-Rata    Peningkatan    Kemampuan    Menulis    Kata &lt;br /&gt;                Bahasa Inggris melalui Permainan Bahasa Siswa Kelas IV A SD &lt;br /&gt;                IKKT Slipi Jakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO SISWA ASPEK KETERAMPILAN MENULIS&lt;br /&gt;  KETEPATAN PENULISAN EJAAN&lt;br /&gt;  PRATES &lt;br /&gt;SIKLUS I&lt;br /&gt;RATA-RATA&lt;br /&gt;1 S-1 1 1&lt;br /&gt;2 S-2 1 1&lt;br /&gt;3 S-3 0 1&lt;br /&gt;4 S-4 1 1&lt;br /&gt;5 S-5 1 1&lt;br /&gt;6 S-6 0 1&lt;br /&gt;7 S-7 0 1&lt;br /&gt;8 S-8 0 1&lt;br /&gt;9 S-9 2 2&lt;br /&gt;10 S-10 2 2&lt;br /&gt;11 S-11 1 1&lt;br /&gt;12 S-12 0 1&lt;br /&gt;13 S-13 1 2&lt;br /&gt;14 S-14 1 1&lt;br /&gt;15 S-15 1 1&lt;br /&gt;16 S-16 0 1&lt;br /&gt;17 S-17 0 1&lt;br /&gt;18 S-18 0 1&lt;br /&gt;19 S-19 2 2&lt;br /&gt;20 S-20 1 1&lt;br /&gt;21 S-21 0 1&lt;br /&gt;22 S-22 0 1&lt;br /&gt;23 S-23 0 2&lt;br /&gt;24 S-24 0 2&lt;br /&gt;25 S-25 1 1&lt;br /&gt;26 S-26 2 2&lt;br /&gt;27 S-27 2 2&lt;br /&gt;28 S-28 0 1&lt;br /&gt;29 S-29 0 2&lt;br /&gt;30 S-30 0 2&lt;br /&gt;31 S-31 1 2&lt;br /&gt;32 S-32 0 1&lt;br /&gt;33 S-33 2 2&lt;br /&gt;34 S-34 0 1&lt;br /&gt; ∑ 23 46&lt;br /&gt; R 0,63 1,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Analisis Data Siklus II &lt;br /&gt;Tabel 4:      Nilai  Rata-Rata  Peningkatan   Kemampuan   Menulis   Kata Bahasa Inggris melalui Permainan Bahasa Siswa Kelas IV A SD IKKT Slipi Jakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO SISWA ASPEK KETERAMPILAN MENULIS&lt;br /&gt;  KETEPATAN PENULISAN EJAAN &lt;br /&gt;  PRATES SIKLUS II&lt;br /&gt;1 S-1 1 2&lt;br /&gt;2 S-2 1 1&lt;br /&gt;3 S-3 0 1&lt;br /&gt;4 S-4 1 2&lt;br /&gt;5 S-5 1 2&lt;br /&gt;6 S-6 0 2&lt;br /&gt;7 S-7 0 2&lt;br /&gt;8 S-8 0 2&lt;br /&gt;9 S-9 2 2&lt;br /&gt;10 S-10 2 2&lt;br /&gt;11 S-11 1 1&lt;br /&gt;12 S-12 0 2&lt;br /&gt;13 S-13 1 1&lt;br /&gt;14 S-14 1 1&lt;br /&gt;15 S-15 1 2&lt;br /&gt;16 S-16 0 2&lt;br /&gt;17 S-17 0 2&lt;br /&gt;18 S-18 0 2&lt;br /&gt;19 S-19 2 2&lt;br /&gt;20 S-20 1 2&lt;br /&gt;21 S-21 0 2&lt;br /&gt;22 S-22 0 1&lt;br /&gt;23 S-23 0 2&lt;br /&gt;24 S-24 0 2&lt;br /&gt;25 S-25 1 1&lt;br /&gt;26 S-26 2 2&lt;br /&gt;27 S-27 2 2&lt;br /&gt;28 S-28 0 2&lt;br /&gt;29 S-29 0 2&lt;br /&gt;30 S-30 0 2&lt;br /&gt;31 S-31 1 2&lt;br /&gt;32 S-32 0 1&lt;br /&gt;33 S-33 2 2&lt;br /&gt;34 S-34 0 1&lt;br /&gt; ∑ 23 59&lt;br /&gt; R 0,63 1,7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan hasil data analisis SPSS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 5 : Tabel Data Analisis SPSS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paired Samples Statistics&lt;br /&gt; Mean N Std. Deviation Std. Error Mean&lt;br /&gt;Pair 1 PRATES 0.6765 34 0.7675 0.1316&lt;br /&gt; SIKLUS I 1.3529 34 0.4851 0.0832&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paired Samples Correlations&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  N Correlation Sig.&lt;br /&gt;Pair 1 PRATES &amp; SIKLUS I 34 0.479 0.004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paired Samples Test&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Paired Differences&lt;br /&gt; Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference&lt;br /&gt;    Lower Upper&lt;br /&gt;Pair 1 PRATES – SIKLUS I -0.67650 0.6840 0.1173 -0.9151 -0.4378&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pair 1 PRATES – SIKLUS I t Df Sig. (2-tailed)&lt;br /&gt;  5.766 33 0.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Paired Samples Statistics&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mean N Std. Deviation Std. Error Mean&lt;br /&gt;Pair 1 PRATES 0.6765 34 0.7675 0.1316&lt;br /&gt; SIKLUS II 1.7353 34 0.4478 0.0768&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paired Samples Correlations&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  N Correlation Sig.&lt;br /&gt;Pair 1 PRATES &amp; SIKLUS II 34 0.096 0.589&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paired Samples Test&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Paired Differences&lt;br /&gt; Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference&lt;br /&gt;    Lower Upper&lt;br /&gt;Pair 1 PRATES – SIKLUS II -1.0588 0.8507 0.1459 -1.3557 -0.7620&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pair 1 PRATES – SIKLUS II T Df Sig. (2-tailed)&lt;br /&gt;  7.257 33 0.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan tabel di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prates dengan siklus I&lt;br /&gt;1. Pada tabel (Paired Sample Statistics) menunjukkan perbedaan rata-rata (mean) antara peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris sebelum diadakan penelitian tindakan melalui permainan bahasa sebesar 0.6765; kasus yang dianalisis sebanyak N = 34; Standar Deviasi (simpang baku) = 0.7675, dan rata-rata kemampuan menulis kata bahasa Inggris sesudah diadakan penelitian tindakan melalui permainan bahasa pada Siklus I = 1.3529; kasus yang dianalisis N = 34 dan Standar Deviasi (simpang baku) = 0.4851&lt;br /&gt;2. Pada tabel (Paired Samples Correlations) menunjukkan korelasi tes awal dengan Siklus I yaitu 0.479 dengan taraf signifikansi  0.004&lt;br /&gt;3. Pada tabel (Paired Samples Test) menunjukkan nilai t hitung sebesar 5.766  dengan sig. (2 – tailed) = 0.000 dengan df = N - 1 = 34 - 1 = 33. Sehingga nilai t tabel =  2.03 pada taraf signifikansi [α = 0,05). Ternyata 5.766 &gt; 2.03 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Jadi ada peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris setelah dilakukan penelitian tindakan melalui permainan bahasa. &lt;br /&gt;Pengajuan Hipotesis:&lt;br /&gt;Ha = Terdapat peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris setelah dilakukan  penelitian tindakan melalui permainan bahasa&lt;br /&gt;H0 = Tidak ada  peningkatan  keterampilan  menulis  kata  bahasa  Inggris setelah dilakukan penelitian tindakan melalui permainan bahasa&lt;br /&gt;Kaidah Keputusan:&lt;br /&gt;- Jika α = 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai sig atau [0,05 ≤ sig], maka H0 diterima dan Ha ditolak.&lt;br /&gt;- Jika α = 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai sig atau [0,05 ≥ sig], maka Ha diterima dan H0 ditolak.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis SPSS sebesar 0,00&lt;br /&gt;Ternyata α = 0,05 lebih besar dari nilai sig atau [0,05 &gt; 0,00], maka Ha diterima dan H0 ditolak. Artinya ada peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris setelah diadakan penelitian tindakan melalui permainan bahasa.&lt;br /&gt;Kesimpulan : Terjadi perbedaan keterampilan menulis kata bahasa Inggris antara sebelum dan sesudah dilakukan penelitian tindakan melalui permainan bahasa. Pada α = 0,05 t hitung (5.766  ) &gt; t tabel (2.03). Jadi terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah kegiatan peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris pada siklus I.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Prates dengan Siklus II &lt;br /&gt;1. Pada tabel (Paired Samples Statistics) menunjukkan perbedaan rata-rata (mean) antara peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris sebelum diadakan penelitian tindakan melalui permainan bahasa sebesar 0.6765; kasus yang dianalisis sebanyak N=34; Standar Deviasi (simpang baku) = 0.7675, dan rata-rata kemampuan menulis kata bahasa Inggris sesudah diadakan penelitian tindakan melalui permainan bahasa pada Siklus II = 1.7353; kasus yang dianalisis N=34 dan Standar Deviasi (simpang baku) = 0.4478&lt;br /&gt;2. Pada tabel (Paired Samples Correlations) menunjukkan korelasi tes awal dengan Siklus II yaitu 0.96 dengan taraf signifikansi 0.589&lt;br /&gt;3. Pada tabel (Paired Samples Test) menunjukkan nilai t hitung sebesar 7.257 dengan sig. (2 – tailed) = 0.000 dengan df = N - 1 = 34 - 1 = 33. Sehingga nilai t tabel = 2.03 pada taraf signifikansi [α = 0,05). Ternyata 7.257  &gt; 2.03 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Jadi ada peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris setelah dilakukan penelitian tindakan melalui permainan bahasa. &lt;br /&gt;Pengajuan Hipotesis:&lt;br /&gt;Ha = Terdapat peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris setelah dilakukan  penelitian tindakan melalui permainan bahasa&lt;br /&gt;H0 = Tidak ada  peningkatan  keterampilan  menulis  kata  bahasa  Inggris setelah dilakukan penelitian tindakan melalui permainan bahasa&lt;br /&gt;Kaidah Keputusan:&lt;br /&gt;- Jika α = 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai sig atau [0,05 ≤ sig], maka H0 diterima dan Ha ditolak.&lt;br /&gt;- Jika α = 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai sig atau [0,05 ≥ sig], maka Ha diterima dan H0 ditolak.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis SPSS sebesar 0,00&lt;br /&gt;Ternyata α = 0,05 lebih besar dari nilai sig atau [0,05 &gt; 0,00], maka Ha diterima dan H0 ditolak. Artinya ada peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris setelah diadakan penelitian tindakan melalui permainan bahasa.&lt;br /&gt;Kesimpulan: Terjadi perbedaan keterampilan menulis bahasa Inggris antara sebelum dan sesudah dilakukan penelitian tindakan melalui permainan bahasa. Pada α = 0,05 t hitung (7.705) &gt; t tabel (2.03). Jadi terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah kegiatan peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris pada siklus II. &lt;br /&gt;3.  Analisis Data Kualitatif&lt;br /&gt;Teknis analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu reduksi data, paparan data dan penyimpulan. Reduksi data adalah proses penyederhanaandata yang diperoleh melalui pengamatandengan cara memilih data sesuai dengan kebutuhan penelitian. Dari pemilihan data tersebut, kemudian dipaparkan lebih sederhanamenjadi paparan yang berurutan berupa paparan data  dan akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentuk pernyataan kalimat yang singkat dan padat, tetapi mengandung pengertian yang luas.&lt;br /&gt; Data pada penelitian ini adalah data hasil tes keterampilan menulis kata siswa serta data yang diperoleh dari hasil observasi dan catatan lapangan. Data yang berupa tes hasil belajar, kemudian diolah melalui tahap sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Seleksi  Data&lt;br /&gt;Langkah awal dari pengolahan data adalah penyeleksian data. Melalui tahap ini dimaksudkan dapat diperoleh berbagai data yang benar-benar memenuhi syarat untuk dianalisis sehingga kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini nantinya tidak diragukan. Untuk menentukan apakah data telah memenuhi  syarat atau tidak, maka data dapat dianalisis berdasarkan:&lt;br /&gt;1) Data yang masuk beridentitas lengkap dan jelas&lt;br /&gt;Hasil tes kemampuan menulis kata siswa merupakan hasil tes yang peneliti peroleh dari seluruh siswa (responden) yang terdapat di kelas IV A SDS IKKT Jakarta Barat yang berjumlah 34 orang siswa. Untuk memudahkan pengukuran nilainya, peneliti meminta kepada siswa untuk menuliskan dengan lengkap nama mereka, walaupun memang pada akhirnya nama mereka tidak disebutkan dalam hasil penelitian tapi ditulis berdasarkan nomor urut.&lt;br /&gt;2) Data yang diperoleh dikerjakan sesuai dengan petunjuk yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;Dalam kegiatan pemberian tes, siswa diminta untuk mengisi kata-kata yang masih kosong yang di dalamnya terdapat soal-soal yang berhubungan dengan Body Parts, Numbers, Colour dan Activities. Hasil tes tersebut kemudian diolah untuk mengetahui sejauh mana peningkatan keterampilan menulis kata mereka setelah diberikan tindakan melalui teknik permainan bahasa. &lt;br /&gt;b. Pengoreksian Data&lt;br /&gt;Pada tahap ini, data yang masuk dikoreksi secara berurutan dan difokuskan pada aspek ketepatan penulisan huruf atau ejaan.  &lt;br /&gt;c. Pembobotan Data&lt;br /&gt;Pembobotan data dilakukan dengan memberikan skor pada masing-masing hasil tes siswa dalam menuliskan kata bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 6 : Skala Penilaian Menulis Kata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Penyimpulan Data&lt;br /&gt;Pada tahap penyimpulan, kriteria keberhasilan siswa dalam menulis kata dapat disimpulkan pada tabel berikut:&lt;br /&gt;Tabel 7 : Perbandingan Nilai Siswa &lt;br /&gt;NO SISWA ASPEK KETERAMPILAN MENULIS&lt;br /&gt;  KETEPATAN PENULISAN EJAAN&lt;br /&gt;  PRATES SIKLUS I RSIKLUS II&lt;br /&gt;1 S-1 1 1 2&lt;br /&gt;2 S-2 1 1 1&lt;br /&gt;3 S-3 0 1 1&lt;br /&gt;4 S-4 1 1 2&lt;br /&gt;5 S-5 1 1 2&lt;br /&gt;6 S-6 0 1 2&lt;br /&gt;7 S-7 0 1 2&lt;br /&gt;8 S-8 0 1 2&lt;br /&gt;9 S-9 2 2 2&lt;br /&gt;10 S-10 2 2 2&lt;br /&gt;11 S-11 1 1 1&lt;br /&gt;12 S-12 0 1 2&lt;br /&gt;13 S-13 1 2 1&lt;br /&gt;14 S-14 1 1 1&lt;br /&gt;15 S-15 1 1 2&lt;br /&gt;16 S-16 0 1 2&lt;br /&gt;17 S-17 0 1 2&lt;br /&gt;18 S-18 0 1 2&lt;br /&gt;19 S-19 2 2 2&lt;br /&gt;20 S-20 1 1 2&lt;br /&gt;21 S-21 0 1 2&lt;br /&gt;22 S-22 0 1 1&lt;br /&gt;23 S-23 0 2 2&lt;br /&gt;24 S-24 0 2 2&lt;br /&gt;25 S-25 1 1 1&lt;br /&gt;26 S-26 2 2 2&lt;br /&gt;27 S-27 2 2 2&lt;br /&gt;28 S-28 0 1 2&lt;br /&gt;29 S-29 0 2 2&lt;br /&gt;30 S-30 0 2 2&lt;br /&gt;31 S-31 1 2 2&lt;br /&gt;32 S-32 0 1 1&lt;br /&gt;33 S-33 2 2 2&lt;br /&gt;34 S-34 0 1 1&lt;br /&gt; ∑ 23 46 59&lt;br /&gt; R 0,63 1,4 1,7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 8 : Taraf Penguasaan Keterampilan Menulis Kata&lt;br /&gt;Taraf Penguasaan Kualifikasi Nilai Angka Keterangan&lt;br /&gt;73% Sangat Baik 2 Berhasil&lt;br /&gt;26%  Baik 1 Kurang Berhasil&lt;br /&gt;0%  Kurang - Tidak berhasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil tes akhir diperoleh data bahwa 25 orang siswa atau 73% siswa mampu mendapat nilai 2, 9 orang siswa atau 26% mendapat nilai 1 dan 0% yang tidak mendapat nilai. Ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan dapat dinyatakan berhasil meningkatkan keterampilan menulis kata bahasa Inggris. &lt;br /&gt;D. Interpretasi Hasil Analisis &lt;br /&gt;Analisis data dengan interpretasi hasil analisis data merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam buku Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi PPs UNJ tahun 2005 dinyatakan bahwa interpretasi dapat dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;1. Memperluas analisis memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru;&lt;br /&gt;2. Menghubungkan antara temuan-temuan penelitian dengan pengalaman-pengalaman personal terkait;&lt;br /&gt;3. Menggunakan advis dari expert di bidangnya;&lt;br /&gt;4. Mengontekstualisasikan temuan-temuan penelitian dengan literatur. &lt;br /&gt;Dalam penelitian ini, peneliti menempuh penggunaan advis dari expert di bidangnya. Di sini peneliti melakukan komunikasi lisan selain dengan pembimbing I dan II yang merupakan tempat peneliti bertanya, peneliti juga melakukan komunikasi lewat surat elektronik kepada Masnur Muslich, seorang pakar dalam Penelitian Tindakan Kelas yang juga narasumber seminar dan penulis beberapa buku tentang Penelitian Tindakan Kelas.&lt;br /&gt;E. Pembahasan Temuan Penelitian &lt;br /&gt;1. Hasil Penelitian dan Pembahasan&lt;br /&gt;a.  Siklus Pertama&lt;br /&gt;Dari hasil analisis data tersebut yaitu uji perbedaan (uji t) diperoleh nilai t = 5.766 dan nilai t tabel 2.03. Ternyata t hitung (5.766  ) &gt; t tabel (2.03) dengan menggunakan α = 0,05, dapat disimpulkan bahwa secara statistik ada perbedaan yang signifikan terhadap kegiatan peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris pada siklus I di kelas IV A SDS IKKT Jakarta Barat. &lt;br /&gt;Melihat hasil penilaian kolaborator secara umum terhadap keterampilan menulis kata bahasa Inggris sudah mengalami perubahan atau peningkatan, tapi masih belum maksimal karena ada beberapa siswa yang nilainya belum mencapai target yang diinginkan. Hal ini disebabkan karena baru dilakukan selama lima pertemuan dengan durasi selama 60 menit/pertemuan sehingga peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris belum begitu cukup.&lt;br /&gt;Sesuai dengan perencanaan tindakan dan kesepakatan peneliti dengan kolaborator maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus berikutnya yaitu siklus II. Pada siklus II ini tindakan kegiatan yang dilakukan adalah lebih menekankan pada perbaikan teknik dan keterampilan menulis kata dengan penulisan ejaan yang tepat. &lt;br /&gt;b. Siklus Kedua&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis data tersebut yaitu uji perbedaan (uji t) diperoleh nilai t = 7.705 dan nilai t tabel 2.03. Ternyata t hitung (7.705) &gt; t tabel (2.03) dengan menggunakan α = 0,05, dapat disimpulkan bahwa secara statistik ada perbedaan yang signifikan terhadap kegiatan peningkatan keterampilan menulis kata bahasa Inggris pada siklus II di kelas IV A SDS IKKT Jakarta Barat. &lt;br /&gt;Berdasarkan pada kenyataan yang ada maka temuan penelitian tindakan ini diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;(1) Siswa terlihat lebih antusias, senang, tertarik dan menikmati belajar bahasa Inggris melalui permainan bahasa;&lt;br /&gt;(2) Siswa dapat menuliskan kata bahasa Inggris sesuai konteks kelas dengan penulisan ejaan yang tepat;&lt;br /&gt;(3) Siswa terlihat lebih serius dalam belajar bahasa Inggris.&lt;br /&gt;2. Keterbatasan Penelitian&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan penelitian tindakan ini,  ada beberapa keterbatasan yang ditemui. Keterbatasan itu adalah:........................................&lt;br /&gt;a. Durasi belajar yang terbatas hanya 60 menit dalam satu kali pertemuan menyebabkan waktu untuk mengulang materi yang telah diberikan guru menjadi singkat;&lt;br /&gt;b. Jumlah siswa yang terlalu banyak menyebabkan kondisi kelas tidak kondusif dan belajar kurang efektif. Hal ini berpengaruh pada konsentrasi siswa dalam belajar dan perhatian guru menjadi terbatas dalam mengontrol siswa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-2903430248727399701?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/2903430248727399701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=2903430248727399701' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/2903430248727399701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/2903430248727399701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2009/09/komentar-laporan-penelitin-tindakan.html' title='Komentar Laporan Penelitin Tindakan Kelas oleh Neneng'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-3310916942958662302</id><published>2009-07-05T20:26:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T20:32:20.956-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anda Bertanya Saya Menjawab'/><title type='text'>Bagaimana cara melaporkan yang setiap siklusnya sampai 6 pertemuan?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan email dari Ibu Neneng Maria Kiptyah:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum wr.wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam kenal dari saya Pak. Nama saya Neneng, saya sedang melakukan Penelitian Tindakan Kelas sebanyak 2 siklus (@6 meeting), sekarang sedang membuat laporannya. Yang ingin saya tanyakan apakah saya harus melampirkan catatan lapangan seluruh pertemuan yg telah saya lakukan? Jadi ada 12 meeting. Mhn dijawab ya Pak. Thank U very much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasslmkmwr.wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inilah jawaban saya:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waalaikum salam war. wab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ning Neneng Maria Kiptyah Yth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap siklus dalam PTK merupakan satu keutuhan. Oleh karena itu, walaupun siklus yang Anda terapkan mencapai 6 pertemuan, tetap saja merupakan satu keutuhan. Dengan demikian, pelaporannya tetap satu kesataun setiap siklusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu Anda perhatikan justru penggambaran atau deskripsi setiap siklus. Upayakan Anda seperti seorang wartawan yang sedang meliput suatu kejadian. Sampaikan apa adanya situasi yang terjadi dalam kelas, tanpa diikuti oleh unsur opini Anda. Fokuskan hal-hal atau kejadian-kejadian khas yang ada dalam kelas yang berdampak pada keberhasilan/kegagalan pencapaian kompetensi siswa. Pendeknya, lewat laporan yang Anda tulis, pembaca akan dapat membayangkan bagaimana situasi kelas yang Anda kenai tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab berikutnya, barulah Anda menganalisisnya mengapa berhasil dan mengapa gagal. Yang berhasil perlu Anda pertahankan, sedangkan yang gagal/lemah perlu Abnda perbaiki pada siklus berikutnya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, siklus kedua dapat Anda lakukan setelah Anda mendeskripsikan dan menganalisis tindakan pada siklus pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Sementara demikian yang dapat saya sampaikan kepada Anda. Serlamat ber-PTK. Sukses untuk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masnur Muslich&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-3310916942958662302?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/3310916942958662302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=3310916942958662302' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/3310916942958662302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/3310916942958662302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2009/07/bagaimana-cara-melaporkan-yang-setiap.html' title='Bagaimana cara melaporkan yang setiap siklusnya sampai 6 pertemuan?'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-2421868190718239153</id><published>2009-03-18T05:14:00.000-07:00</published><updated>2010-02-16T15:27:20.739-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Melaksanakan PTK itu Mudah (Classroom Action Research): Pedoman Praktis bagi Guru Profesional</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/S3spd5QpgYI/AAAAAAAAAlo/onUzRWMh8BQ/s1600-h/PTK.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" ct="true" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/S3spd5QpgYI/AAAAAAAAAlo/onUzRWMh8BQ/s400/PTK.JPG" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PRAKATA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku ini didasari pertimbangan berikut. Selama ini guru-guru sudah sering mendapatkan teori penelitian tindakan kelas (PTK) lewat berbagai forum seminar dan/atau lokakarya yang berlabel “PTK” tetapi sebagian besar di antara mereka tetap saja kurang – bahkan tidak – dapat melaksanakan PTK sesuai dengan yang diharapkan. Biangnya adalah materi yang dibicarakan dalam forum ilmiah “bergengsi” tersebut masih berkutat pada tataran teoretis dan belum menyentuh kebutuhan praktis. Akibatnya, ketika mereka dihadapkan padan langkah-langkah konkret apa yang harus dilakukan ketika melaksanakan PTK, mereka tetap saja dirundung kecanggungan dan kebingungan.&lt;br /&gt;Kedua, ketika lima tahun terakhir ini penulis dimintai bantuan oleh sekelompok guru untuk melakukan pendampingan pelaksanaan PTK, mereka ternyata dapat melaksanakannya dengan lancar mulai pada tahap perencanaan, pelaksanakan, sampai pada tahap pelaporan. Keberhasilan ini bukan karena penulis ikut campur dalam pelaksanaannya, tetapi hanyalah memberikan saran-saran konkret apa yang harus mereka lakukan setiap tahapan PTK. Akibat lanjutnya adalah para guru yang sebelumnya kepangkatan mereka macet pada golongan IVA sekarang naik menjadi IVB, bahkan empat tahun berikutnya menjadi IVC. Kelancaran ini karena syarat utama yang berupa karya PTK mendapatkan nilai maksimal dari Tim Penilai Provinsi atau Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan LPMP) Provinsi.&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari kewajiban moral, pengalaman keberhasilan pendampingan tersebut perlu penulis tularkan kepada para guru yang selama ini mendambakan keberhasilan pelaksanaan PTK. Apakah karena mereka dilatarbelakangi oleh kemacetan kenaikan pangkat atau memang ingin menjadi sosok guru yang profesional karena selalu ingin meningkatkan keberhasilan dalam kegiatan instruksionalnya. Atas pertimbangan itulah, buku bertajuk Melaksanakan PTK itu Mudah ini disusun. Semoga upaya ini ada guna dan manfaatnya bagi para “pahlawan pendidikan” demi masa depan anak bangsa. &lt;br /&gt;Terakhir, ucapkan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang karya-karyanya terkutip dalam buku ini yang semata-mata demi memperjelas wawasan pembaca. Atas keikhlasannya, sekali lagi penulis ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masnur Muslich &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR ISI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prakata &lt;br /&gt;Daftar Isi &lt;br /&gt;Bab 1 Menengok Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas&lt;br /&gt;Ada apa dengan PTK?&lt;br /&gt;Dari mana istilah PTK muncul?&lt;br /&gt;Apa itu PTK?&lt;br /&gt;Apa Tujuan PTK?&lt;br /&gt;Apa karakteristik PTK?&lt;br /&gt;Mengapa guru dianggap paling tepat untuk melakukan PTK?&lt;br /&gt;Apa Manfaat PTK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab 2 Mengembangkan Fokus Masalah dan Tujuan PTK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Munculnya masalah&lt;br /&gt;b. Mengidentifikasi masalah&lt;br /&gt;c. Memfokuskan masalah yang telah teridentifikasi&lt;br /&gt;d. Memprioritaskan masalah yang akan dipecahkan&lt;br /&gt;e. Mendiagnosislah kemungkinan penyebab masalah dan alternatif tindakan perbaikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab 3 Merencanakan Alernatif Tindakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Merumuskan pemecahan masalah dalam bentuk hipotesis tindakan&lt;br /&gt;b. Menganalisis kelaikan hipotesis tindakan&lt;br /&gt;c. Mempersiapkan Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab 4 Melaksanakan dan Mengobservasi Tindakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Mengobservasi tindakan&lt;br /&gt;b. Teknik-teknik observasi dalam penelitian tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab 5 Menganalisis dan Merefleksi Hasil Tindakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Menganalisis data&lt;br /&gt;b. Merefleksi hasil analisis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab 6 Menyusun Laporan PTK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Bagian awai laporan PTK&lt;br /&gt;b. Bagian isi atau tubuh laporan PTK&lt;br /&gt;c. Bagian akhir laporan PTK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab 7 Menyusun Proposal PTK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Hakikat dan fungsi proposal PTK&lt;br /&gt;b. Bagian awal proposal PTK&lt;br /&gt;c. Bagian isi proposal PTK&lt;br /&gt;d. Bagian akhir proposal PTK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lampiran &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lampiran 1:&lt;/em&gt; Contoh Judul Penelitian Tindakan Kelas&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lampiran 2:&lt;/em&gt; Contoh Artikel PTK ”Efektivitas Pembelajaran Geografi Melalui Metode Out Door Study dalam Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa” oleh Ninik Widayanti&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lampiran 3:&lt;/em&gt; Contoh Artikel PTK Role Play: Suatu Alternatif Pembelajaran Yang Efektif dan Menyenangkan dalam Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik” oleh Mudairin&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lampiran 4:&lt;/em&gt; Contoh Artikel PTK ”Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Melalui Teknik KWL dan Permainan Bahasa” oleh : Jafrizal *)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lampiran 5: &lt;/em&gt;Contoh Artikel PTK “Upaya Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman Melalui Penerapan Teknik Skema” oleh Fuad Asnawi\&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lampiran 6: &lt;/em&gt;Contoh Artikel PTK “Pendekatan Joyful Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)” oleh Sri Hayati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;Ingin membaca selengkapnya? Anda dapat memperolehnya di toko buku terdekat atau ke Penerbit Bumi Aksara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-2421868190718239153?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/2421868190718239153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=2421868190718239153' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/2421868190718239153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/2421868190718239153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2009/03/melaksanakan-ptk-itu-mudah-classroom.html' title='Melaksanakan PTK itu Mudah (Classroom Action Research): Pedoman Praktis bagi Guru Profesional'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/S3spd5QpgYI/AAAAAAAAAlo/onUzRWMh8BQ/s72-c/PTK.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-7449980838985277359</id><published>2008-10-28T08:21:00.001-07:00</published><updated>2009-03-20T07:50:10.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Bagaimana Merencanakan Alernatif Tindakan Kelas?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Masnur Muslich&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda mengembangkan fokus masalah yang Anda rasakan dalam pembelajaran, Anda juga telah mendiagnosis penyebab masalah dan alternatif pemecahannya. Ini berarti secara tidak langsung Anda sudah membayangkan tindakan-tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasi masalah tersebut.&lt;br /&gt;Terkait dengan perencanaan alternatif tindakan ini pada dasarnya tidak berbeda dengan penyusunan skenario tindakan pembelajaran dalam RPP. Oleh karena itu, apabila Anda sudah terbiasa menyusun skenario pembelajaran dalam RPP, dipastikan Anda dapat merencanakan alternatif tindakan yang akan Anda lakukan dalam PTK. Mudah, bukan?&lt;br /&gt;Gagasan Anda mengenai tindakan apa saja yang dapat memecahkan masalah yang dihadapi akan menghasilkan banyak alternatif tindakan yang dapat Anda pilih. Anda perlu memikirkan bentuk dan macam tindakan (-tindakan) apa yang Anda perkirakan  cocok untuk dilaksanakan dalam kelas sebagai ”terapi” atau ”obat” atas ”penyakit pemnbelajaran” yang telah Anda temukan.&lt;br /&gt;Dalam merencanakan alternatif tindakan ini, Anda melakukan serangkaian kegiatan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;a. Merumuskan pemecahan masalah dalam bentuk hipotesis tindakan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Dilihat dari sudut lain, alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis yang  mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, atas topik PTK yang dirumuskan Ibu Yuyun “Peningkatan Kemampuan Menulis Siswa Kelas III SDN Sumberejo II Kabupeten Sukamaju dengan Menggunakan Media Komik”, maka hipotess tindakannya dapat dirumuskan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan media komik sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas III SDN Sumberejo II Kabupaten Sukamaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hipotesis tindakan tersebut dianggap terlalu umum, Anda dapat menyusunnya menjadi hipotesis tindakan yang lebih khusus sehingga indikator-indikaktornya lebih terlihat.  Misalnya, berdasarkan rumusan hipotesis tindakan di atas, dapat dikhususkan lagi menjadi tidak hipotesis tindakan khusus sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penggunaan media komik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat berdasarkan rangkaian gambar  secara urut sehingga menjadi karangan yang utuh.&lt;br /&gt;2. Penggunaan media komik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memadukan hubungan antar kalimat menjadi karangan yang padu dengan menggunakan kata sambung yang sesuai.&lt;br /&gt;3.  Penggunaan media komik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar dalam karangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Catatan:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih, maka hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian. Hipotesis tindakan berupa pernyataan yang berisi upaya tindakan yang diduga merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti.&lt;br /&gt;Contoh lain rumusan hipotesis tindakan:&lt;br /&gt;-  Pelibatan orang tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah akan berdampak meningkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah.&lt;br /&gt;-  Jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan, perbendaharaan kata akan meningkat dengan rata – rata 10 % setiap bulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Anda dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat, sebagai peneliti, Anda dapat melakukan serangkaian kegiatan berikut ini.&lt;br /&gt;1)  Mengkaji teori-teori pembelajaran/pendidikan, khususnya yang terkait dengan topik yang akan diteliti;&lt;br /&gt;2)  Menelaah hasil-hasil penelitian yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti;&lt;br /&gt;3)  Berdiskusi dengan rekan sejawat, pakar pendidikan, atau peneliti lain yang mempunyai wawasan cukup tentang pembelajaran, terutama pembelajaran yang terkait dengan topik yang akan diteliti;&lt;br /&gt;4)  Mengkaji pendapat dan saran pakar pendidikan yang dituangkan dalam bentuk program-program nyata, khususnya pakar pendidikan yang terkait dengan topik yang akan diteliti; dan&lt;br /&gt;5)  Merefleksikan pengalaman Anda sendiri sebagai guru, terutama ketika melaksanakan pembelajaran.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pengkajian/diskusi tersebut, Anda akan dapat memperoleh landasan yang mantap untuk membangun hipotesis tindakan.&lt;br /&gt;Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. Dengan kata lain, alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual.&lt;br /&gt;2) Kaji ulang setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan dan evaluasi dan segi relevansinya dengan tujuan, kelaikan teknis, serta keterlaksanaannya. Di samping itu, tetapkan juga cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan.&lt;br /&gt;3) Pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil yang optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situsasi sekolah yang aktual.&lt;br /&gt;4) Pikirkan dengan saksama perubahan-perubahan atau perbaikan-perbaikan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu, baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berdasarkan rumusan masalah dan diagnosis penyebab masalah yang telah Anda tetapkan, sekarang rumuskan pemecahannya dalam bentuk hipotesis tindakan, baik dalam rumusan umum maupun khusus! Tulislah dalam format berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis tindakan (rumusan umum):&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis tindakan (rumusan khusus):&lt;br /&gt;a. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;b. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;c. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;Dan seterusnya. (Tambahkan kalau jumlah rumusan khusus hipotesis tindakan masih kurang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;b. Menganalisis kelaikan hipotesis tindakan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Setelah Anda memperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan, selanjutnya Anda perlu melakukan pengkajian terhadap kelaikan masing-masing hipotesis tindakan itu. Pengkajian Anda arahkan pada: apakah ada “jurang” antara situasi nyata dan situasi ideal yang dijadikan rujukan? Jika terdapat jurang yang terlalu dalam di antara keduanya sehingga dalam praktik akan terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya, tindakan yang akan Anda lakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal&lt;br /&gt;OIeh karena itu, kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga masih ada dalam batas-batas kemampuan Anda sebagai guru, dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah, kemampuan rata-rata siswa sasaran. Dengan kata lain, sebagai pelaku PTK, Anda hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian kelas/sekolah tempat Anda melaksanakan tugas.&lt;br /&gt;Terkait dengan pengkajian kelaikan hipotesis tindakan ini, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.&lt;br /&gt;1) Implementasi PTK akan berhasil apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan pelaksananya. Selain itu, keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. Dengan kata lain, PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan financial, melainkan demi komitmen guru yang memang ingin keberhasilan kompetensi siswa.&lt;br /&gt;2) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dan segi fisik, psikologis dan sosial budaya maupun etik. Dengan kata lain, PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa.&lt;br /&gt;3) Fasilitas dan sarana pendukung yang tersedia di kelas atau di sekolah juga perlu diperhitungkan, sebab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat terhambat oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. Oleh karena itu, demi keherhasilan PTK maka guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan.&lt;br /&gt;4) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan, keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. Pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan statusquo. Dengan kata lain, perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK.&lt;br /&gt;5) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi, maka selain iklim belajar, iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. Dengan kata lain, dukungan dan kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK. (Lihat  Soedarsono,1999.)&lt;br /&gt;Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empirik. Hal ini berarti bahwa baik proses pelaksanaan tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat diamati atau dimonitor baik oleh Anda sebagai guru pelaksana PTK maupun oleh pengamat lain (teman sejawat). Pengamatan atau monitoring ini apat dinyatakan dalam bentuk angka-angka (kuantitatif) maupun dalam bentuk penilaian/pernyataan kualitatif. Yang paling penting adalah gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi oleh siapa pun.&lt;br /&gt;Selain itu, tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. Atas dasar babagai pertimbangan tersebut, peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana tindakan yang akan terapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan rumusan hipotesis tindakan yang telah Anda tetapkan, jelaskan kelaikan atau kelayakannya! Kelaikannya dapat Anda arahkan pada kondisi real kelas dan/atau sekolah yang Anda anggap dapat menunjang penerapan hipotesis tindakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelaikan hipotesis tindakan:&lt;br /&gt;a. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;b. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;c. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;d. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;e. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;Dan seterusnya. (Tambahkan kalau butir kelaikan hipotesis tindakan masih anda rasa kurang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;c. Mempersiapkan Tindakan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;            Sebelum PTK dilaksanakan, Anda perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat Anda kelola dengan baik. Langkah-langkah persiapan yang perlu Anda tempuh antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Buatlah skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang akan Anda lakukan (sebagai guru) dan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah Anda rencanakan. (Secara teknis, bagaimana Anda membuat skenario pembelajaran, perhatikan tips ”Merencakan Tindakan Perbaikan” yang tertuang dalam boks di bawah ini!)&lt;br /&gt;2) Persiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang Anda perlukan di kelas, seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga lainnya.&lt;br /&gt;3) Persiapkan cara merekam, memonitor, dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan.&lt;br /&gt;4) Lakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlakasanaan rancangan, sehingga dapat menumbuhkan dan memantapkan kepercayaan diri dalam pelaksanaan yang sebenarnya. Sebab, sebagai pelaku PTK, Anda harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tips:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Merencanakan Tindakan Perbaikan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Setelah Anda merumuskan masalah yang diikuti dengan diagnosis penyebab timbulnya masalah, Anda mencoba mencari cara untuk memperbaiki atau mengatasi masalah. Dengan perkataan lain, pada langkah ini, Anda merancang tindakan perbaikan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.&lt;br /&gt;Untuk merancang suatu tindakan perbaikan, Anda dapat:&lt;br /&gt;(1)   mengacu kepada teori yang relevan dengan masalah yang telah Anda rumuskan, baik teori bidang studi maupun teori pembelajaran bidang studi;&lt;br /&gt;(2)   bertanya kepada ahli terkait, baik ahli pembelajaran, ahli bidang studi, mapun ahli pembelajaran bidang studi; dan&lt;br /&gt;(3)   berdiskusi atau berkonsultasi dengan teman sejawat, baik teman yang sebidang studi maupun lintas bidang studi yang Anda anggap berpengalaman dalam melakukan PTK.&lt;br /&gt;Tindakan perbaikan yang Anda rancang hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa yang tak terduga sehingga dapat meminimalkan resiko yang akan muncul. Rencana tindakan mesti cukup fleksibel agar dapat diadaptasikan dengan pengaruh yang tak dapat terduga dan kendala yang sebelumnya tidak terlihat. Oleh karena itu, tindakan yang Anda rencanakan harus Anda arahkan pada dua pengertian. Pertama, tindakan kelas mempertimbangkan resiko yang ada dalam perubahan dinamika kehidupan kelas dan mengakui adanya kendala nyata, baik yang bersifat material namun bersifat nonmeterial dalam kelas Anda. Kedua, tindakan-tindakan yang Anda pilih akan memungkinkan Anda untuk bertindak secara lebih efektif dalam tahapan-tahapan pembelajaran, akan lebih bijaksana dalam memperlakukan siswa, dan cermat dalam mengamati kebutuhan dan perkembangan belajar siswa.&lt;br /&gt;Tindakan yang Anda rencanakan pun hendaknya (1) dapat membantu Anda sendiri dalam (a) mengatasi kendala pembelajaran kelas, (b)  bertindak secara lebih tepat-guna dalam kelas Anda, (c) meningkatkan keberhasilan pembelajaran kelas, dan (d) membantu Anda menyadari potensi baru Anda untuk melakukan tindakan guna meningkatkan kualitas kerja.&lt;br /&gt;Dalam proses perencanaan, Anda sebaiknya berkolaborasi dengan teman sejawat Anda melalui diskusi untuk merumuskan hal-hal teknis yang akan Anda pakai dalam menganalisis dan meningkatkan pemahaman dan tindakan Anda dalam kelas.&lt;br /&gt;Apabila rambu-rambu tersebut sudah Anda perhatikan, serangkaian rencana tindakan perbaikan laik Anda dituangkan dalam rencana pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hipotesis tindakan dan analisis kelaikan yang Anda rumuskan, tulislah skenario pembelajaran yang akan Anda terapkan dalam tindakan kelas!  Tentukan juga sarana pendukung yang Anda perlukan; alat dan cara “merekam” data tentang proses dan hasil tindakan; teknik analisisnya; dan siklus pembelajaran yang direncanakan! Tulislah poin-poinnya pada format berikut! (Uraian secara lengkap dapat Anda tulis pada lembar tersendiri!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan Tindakan&lt;br /&gt;a. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;b. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;c. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;d. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;e. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;f. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;Dan sebagainya. (Silakan ditambah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana Pendukung Tindakan&lt;br /&gt;a. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;b. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;Dan sebagainya. (Silakan ditambah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Evaluasi Tindakan&lt;br /&gt;a. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;b. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;Dan sebagainya. (Silakan ditambah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Analisis Data Tindakan&lt;br /&gt;a. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;b. __________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;Dan sebagainya. (Silakan ditambah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Siklus Tindakan&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;__________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian lebih lanjut silakan baca &lt;em&gt;Melaksanakan PTK itu Mudah &lt;/em&gt;oleh Masnur Muslih (Bumi Aksara, 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-7449980838985277359?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/7449980838985277359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=7449980838985277359' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/7449980838985277359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/7449980838985277359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2008/10/bagaimana-merencanakan-alernatif.html' title='Bagaimana Merencanakan Alernatif Tindakan Kelas?'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-4835442494462873171</id><published>2008-10-21T18:25:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:50:38.278-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Bagaimana Mengembangkan Fokus Masalah dan Tujuan PTK?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh Masnur Muslich&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Perhatikan ilustrasi berikut!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Selama melaksanakan pembelajaran Anda tentu tidak pernah terhindar dari berbagai masalah, baik masalah yang terkait dengan pengelolaan kelas, media/saran pembelajaran, pemilihan metode/strategi pembelajaran, maupun hal-hal yang bersifat instruksional lainnya. Meskipun banyak masalah, ada kalanya Anda kurang atau tidak sadar bahwa Anda mempunyai masalah. Atau, masalah yang Anda rasakan kemungkinan masih kabur sehingga Anda perlu merenung atau melakukan refleksi agar masalah tersebut menjadi semakin jelas. Oleh karena itu, agar Anda terdorong untuk menemukan masalah, Anda dapat melakukan sharing pendapat dengan kepala sekolah, pengawas, atau teman sejawat. Dengan cara demikian, serangkaian masalah yang terkait dengan pembelajaran akan dapat Anda identifikasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yang perlu Anda sadari adalah Anda tidak mungkin memecahkan semua masalah yang teridentifikasikan itu secara sekaligus. Mengapa demkian? Masalah-masalah itu berbeda satu sama lain dalam hal kepentingan atau nilai strategisnya. Masalah yang satu boleh jadi merupakan penyebab dari masalah yang lain sehingga pemecahan terhadap yang satu akan berdampak pada yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Agar Anda dapat memilih masalah secara tepat, Anda perlu menyusun masalah-masalah itu berdasarkan kriteria tingkat kepentingan, nilai strategis, dan nilai prasyarat. Berdasarkan kriteria itulah, Anda akhirnya dapat memilih satu masalah yang paling Anda anggap penting untuk segera dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan mendiagnosis masalah, yaitu kesadaran Anda (sebagai guru) akan permasalahan yang Anda rasakan atau Anda anggap mengganggu dan menghalangi pencapaian tujuan pembelajaran atau tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan/atau hasil belajar siswa, dan/atau implementasi program sekolah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Untuk membantu Anda mendiagnosis masalah, perhatikan uraian singkat pada boks berikut!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Masalah-masalah di kelas yang perlu dicermati guru dapat berkaitan dengan masalah pengelolaan kelas, proses belajar-mengajar, penggunaan sumber-sumber belajar, dan masalah personal dan keprofesionalan guru. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dilakukan dalam rangka:&lt;br /&gt;(1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar,&lt;br /&gt;(2) meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar,&lt;br /&gt;(3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif, dan&lt;br /&gt;(4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK yang dikaitkan dengan proses belajar-mengajar dilakukan dalam rangka:&lt;br /&gt;(1) menerapkan berbagai metode mengajar,&lt;br /&gt;(2) mengembangkan kurikulum,&lt;br /&gt;(3) meningkatkan peranan siswa dalam belajar, dan&lt;br /&gt;(4) memperbaiki metode evaluasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK yang dikaitkan dengan penggunaan sumber-sumber belajar dilakukan dalam rangka pengembangan pemanfaatan&lt;br /&gt;(1) model atau peraga,&lt;br /&gt;(2) sumber-sumber lingkungan, dan&lt;br /&gt;(3) peralatan tertentu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK yang dikaitkan dengan personal dan keprofesionalan guru dilakukan dalam rangka&lt;br /&gt;(1) meningkatkan hubungan antara siswa, guru, dan orang tua,&lt;br /&gt;(2) meningkatkan “konsep diri” siswa dalam belajar,&lt;br /&gt;(3) meningkatkan sifat dan kepribadian siswa, dan&lt;br /&gt;(4) meningkatkan kompetensi guru secara profesional.&lt;br /&gt;Harus diingat bahwa masalah penelitian yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria “dapat diteliti” atau “dapat diamati”, dapat “ditindaki”, dan “dapat ditindaklanjuti”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak kemungkinan masalah yang ditemukan, guru (bersama dengan teman sejawat) perlu mendiagnosis masalah apa atau masalah mana yang perlu diprioritaskan pemecahannya dalam penelitian yang akan dilakukan itu. Penetapan masalah hendaknya dilakukan setelah menganalisis seluruh pilihan masalah, minat, dan keinginan guru (bersama teman sejawat) untuk memecahkan salah satu atau beberapa di antaranya. Penetapan masalah ini ditandai dengan penentuan permasalahan yang akan diteliti dan perumusan fokus masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Rumusan fokus masalah yang mungkin ditetapkan guru dapat berupa rumusan sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan mampu belajar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagaimana memilih strategi pembelajaran yang paling tepat untuk membelajarkan materi tertentu?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagaimana melaksanakan pembelajaran kooperatif?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagaimana mengajak siswa agar di kelas mereka benar-benar aktif belajar (aktif secara mental maupun fisik, aktif berpikir)?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagaimana meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagaimana mengelola kelas yang dapat meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Media belajar apa yang dapat mempercepat keterampilan anak pada materi pembalajaran tertentu?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagaimana menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan kehidupan siswa sehari-hari agar mereka dapat menggunakan pengetahuan dan pemahamannya mengenai materi itu dalam kehidupan sehari-hari dan tertarik untuk mempelajarinya karena mengetahui manfaatnya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terkait dengan pemfokusan masalah ini, Striger (2004) memberikan arahan sebagai berikut.&lt;br /&gt;Isu atau masalah itu harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang dapat diteliti dan diidentifikasi tujuan meneliti masalah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Isu atau topik yang ingin diteliti: &lt;/em&gt;Deskripsikan apa isu atau peristiwa yang menimbulkan permasalahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Masalah penelitian: &lt;/em&gt;Nyatakan isu sebagai suatu masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rumusan masalah:&lt;/em&gt;Tuliskan masalah dalam bentuk pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tujuan penelitian: &lt;/em&gt;Deskripsikan apa yang diharapkan dapat diperoleh dengan meneliti masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Contoh:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Isu: &lt;/em&gt;Siswa kurang aktif di kelas, cenderung tidak pernah mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tetapi hampir tidak ada siswa yang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masalah: &lt;/em&gt;Siswa perlu digalakkan untuk aktif dalam kelas, aktif secara utuh&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Fokus masalah: &lt;/em&gt;Bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas?&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;Bagaimana peningkatan partisipasi siswa dalam kelas, baik secara ”hands on”, ”minds on” maupun ”hearts on” ?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rumusan masalah: &lt;/em&gt;Masalah apa yang terjadi di kelas, bagaimana upaya mengatasinya, apa tindakan yang dianggap tepat untuk itu, di kelas, dan sekolah mana hal itu terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tujuan penelitian: &lt;/em&gt;Meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas, baik secara ”hands on”, ”minds on” maupun ”hearts on”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;----------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nah, sekarang saatnya Anda melakukan tahap pertama PTK, yaitu mengembangkan fokus masalah yang nantinya dapat Anda tindaklajuti dalam PTK. Anda pasti dapat melaksakannya! Ayo, semangat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ayo, mengidentifikasi masalah!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Cobalah Anda identifikasi masalah-masalah yang Anda anggap mengganggu dan menghalangi pencapaian tujuan pembelajaran atau tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan/atau hasil belajar siswa, dan/atau menghambat implementasi program sekolah. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tuliskannya masalah-masalah yang Anda temukan!.&lt;br /&gt;Masalah-maslah yang selama ini saya rasakan mengganggu dan menghalangi dalam pencapaian tujuan pembelajaran atau tujuan pendidikan adalah sebagai berikut. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;.......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... ..........................................................................................................................................&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Fokuskan masalah yang telah teridentifikasi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalah yang telah Anda identifikasi tersebut mungkin masih kabur dan kurang memfokus. Hal itu dapat dimaklumi karena ketika Anda mengidentifkasi permasalah tersebut hanya berdasarkan kesan terlintas yang berada di ingatan atau pemikiran Anda. Nah, sekarang fokuskan masalah tersebut sehingga lebih tajam, mengkhusus, dan mengarah. Kalau perlu, kumpulkan data lapangan secara lebih sistematis dan lakukan kajian pustaka yang relevan sehingga masalah tersebut ada “payung” keilmuannya. Untuk lebih memantapkan fokus masalah ini, Anda dapat melakukan diskusi dengan teman sejawat.&lt;br /&gt;Rumuskan fokus permasalahan itu ke dalam format berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus permasalahan PTK&lt;br /&gt;a. _______________________________________________&lt;br /&gt;b. _______________________________________________&lt;br /&gt;c. _______________________________________________&lt;br /&gt;d. _______________________________________________&lt;br /&gt;e. _______________________________________________&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mana, masalah yang akan Anda prioritaskan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumusan fokus permasalahan tersebut, tentu ada satu fokus masalah yang Anda anggap lebih mendapat prioritas dari yang lain. Sebab, tidak mungkin serangkaian fokus permasalahan tersebut Anda pecahkan secara bersamaan. Harus dilakukan secara bertahap. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Prioritas pemecahan fokus masalah dapat Anda dasarkan pada pertimbangan berikut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Fokus masalah tersebut sudah tidak dapat ditoleransi lagi, dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Fokus masalah tersebut sudah mendapatkan perhatian umum sehingga perlu segera mendapatkan jawaban pemecahannya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Fokus masalah tersebut cukup signifikan dalam mengganggu pencapaian tujuan pembelajaran bila dibanding dengan fokus masalah yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Fokus masalah tersebut dapat dengan segera dicarikan jalan pemecahannya oleh guru yang bersangkutan bila dibanding dengan fokus masalah yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berdasarkan pertimbangan tersebut, saat ini tentukan satu fokus masalah yang segera dapat Anda lakukan dalam program PTK. Catatlah satu fokus masalah prioritas tersebut dalam format berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas fokus masalah:&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;br /&gt;Alasan memprioritaskan fokus masalah: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;br /&gt;______________________________________________&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Uraian lebih lanjut silakan baca &lt;em&gt;Melaksanakan PTK itu Mudah &lt;/em&gt;oleh Masnur Muslih (Bumi Aksara, 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-4835442494462873171?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/4835442494462873171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=4835442494462873171' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/4835442494462873171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/4835442494462873171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2008/10/mengembangkan-fokus-masalah-dan-tujuan.html' title='Bagaimana Mengembangkan Fokus Masalah dan Tujuan PTK?'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785344900481502791.post-1687376747078612958</id><published>2008-10-18T21:07:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:51:18.849-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ayo, Menengok Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Oleh Masnur Muslich&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang guru, Anda harus mempunyai komitmen yang tinggi terhadap tugas-tugas keguruan. Komitmen tinggi itu antara lain ditunjukkan oleh sikap yang selalu ingin menjalankan tugas-tugas pembelajaran dengan baik dan maksimal demi keberhasilan dan kesuksesan anak didik. Hanya dengan sikap yang demikian itulah peran Anda dalam dunia pendidikan akan menampak.&lt;br /&gt;Terkait dengan komitmen itu, renungkan puisi “Bangkit bagi Guru” berikut ini. (Diadaptasikan dari puisi “Bangkit Itu” yang pernah dibacakan oleh Dedy Mizwar di televesi dalam rangka menyambut Satu Abad Kebangkitan Nasional.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bangkit bagi Guru&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Diadaptasikan oleh &lt;em&gt;Masnur Muslich&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bangkit itu Susah ...&lt;br /&gt;Susah melihat anak didik susah&lt;br /&gt;Senang melihat anak didik senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu Takut ...&lt;br /&gt;Takut untuk gagal&lt;br /&gt;Takut untuk tidak dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu Malu ...&lt;br /&gt;Malu menjadi benalu&lt;br /&gt;Malu karena minta petunjuk melulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu Marah ...&lt;br /&gt;Marah bila martabat guru dilecehkan&lt;br /&gt;Marah bila dicap sebagai guru tidak profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu Mencuri&lt;br /&gt;Mencuri perhatian dunia pendidikan dengan prestasi&lt;br /&gt;Mencuri kreativitas demi keberhasilan anak didik sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu Tidak ada&lt;br /&gt;Tida ada kata menyerah&lt;br /&gt;Tidak ada kata putus asa&lt;br /&gt;Karena demi anak bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu Aku&lt;br /&gt;Guru untuk anak didikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu wujud keinginan untuk menjalankan tugas pembelajaran dengan baik dan maksimal adalah mencermati setiap tindakan pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan “menyelidik” sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apakah metode pembelajaran yang saya pilih telah sesuai dengan tipe dan sifat bahan pelajaran yang saya sajikan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apakah strategi pembelajaran yang saya lakukan dapat menciptakan kreativitas pembelajaran? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apakah pemilihan media dan sarana pembelajaran yang saya pakai dapat mempercepat pencapaian kompetensi? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apakah pengelolaan kelas yang saya terapkan dapat menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan pertanyaan lain yang relevan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jawaban ”jujur” Anda setiap pertanyaan tersebut pada dasarnya merupakan “refleksi awal” atas kegiatan pembelajaran yang telah Anda lakukan. Apabila jawaban “jujur” Anda tersebut tidak sesuai dengan “harapan” atau “idealisme” Anda, maka Anda berkewajiban moral untuk memperbaikinya. Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan itu merupakan “penyakit” yang harus segera Anda “obati”. Sikap ini merupakan konsekuensi logis dari komitmen Anda sebagai seorang guru yang profesional, atau seorang guru yang ingin profesional. Dan, sikap inilah awal munculnya penelitian tindakan kelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;----&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seorang guru profesional, sebelum Anda melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), Anda perlu memiliki wawasan yang cukup tentangnya. Tanpa memiliki wawasan yang memadai, mustahil Anda dapat melakasanakannya dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermati uraian berikut ini! Dengan catatan, uraian konseptual ini jangan membuat Anda “takut” dan merasa “terbebani” mengadakan PTK. Anggaplah uraian ini sebagai “sekilas info” saja. Toh, Anda tidak akan diuji dengan hal-hal yang konsptual ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada apa dengan PTK?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sejak awal milenium kedua ini, istilah “classroom action research” atau penelitian tindakan kelas (PTK) ramai dibicarakan orang, khusunya di kalangan pendidikan di Indonesia. Mengapa demikian? Setidak-tidaknya dapat diilustrasikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, telah dimaklumi bahwa peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dapat ditempuh melalui berbagai upaya, yaitu – antara lain – melalui pembenahan isi kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan penilaian hasil belajar siswa, penyediaan bahan ajar yang memadai, penyediaan sarana belajar, dan peningkatan kompetensi guru. Namun, dari sekian banyak upaya tersebut, peningkatan kualitas pembelajaran melalui peningkatan kualitas pendidik tetap menduduki posisi sangat strategis dan akan berdampak positif. Dampak positif tersebut antara lain berupa (1) peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan masalah pembelajaran yang dihadapi secara nyata; (2) peningkatan kualitas masukan, proses, dan hasil belajar; (3) peningkatan keprofesionalan pendidik; (4) penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian. Dan, ternyata, upaya peningkatan kualitas pembelajaran melalui peningkatan kualitas pendidik ini hanya bisa dilakukan setelah diadakan PTK oleh guru yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, selama ini salah satu upaya pemecahan berbagai masalah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan adalah dengan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa dampak hasil penelitian pendidikan dalam bentuk peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dirasakan masih sangat kurang. Salah satu penyebabnya adalah penelitian pendidikan itu dilakukan oleh pakar pendidikan atau peneliti dari luar, yang pada umumnya kurang memahami benar masalah yang terjadi di dalam kelas. Mengapa demikian? Permasalahan penelitian yang diangkat para peneliti itu kurang dihayati oleh guru yang terlibat langsung dalam kelas. Dengan demikian, guru tidak atau sukar sekali memanfaatkan hasil penelitian itu secara langsung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, kalau toh hasil penelitian pendidikan tersebut bersinergi dengan kepentingan pembelajaran di kelas, penyebaran informasinya ke guru-guru yang berkepentingan memakan waktu yang cukup lama. Pengalaman menunjukkan bahwa untuk mengomunikasikan hasil penelitian melalui jalur jurnal ilmiah diperlukan waktu minimal dua tahun. Apalagi, setelah jurnal yang memuat hasil penelitian itu terbit, belum tentu guru sekolah memperoleh akses jurnal ilmiah tersebut. Kalau toh memperolehnya, tidak semua guru dengan mudah memahaminya karena bahasa yang digunakan sangat teknis-ilmiah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada sisi lain, selama ini upaya meningkatkan kemampuan meneliti memang dirancang dengan pola pendekatan research-development-dissemination (RDD). Pendekatan ini lebih menekankan perencanaan penelitian yang bersifat top-down dan sangat teoretis. Paradigma demikian dirasakan tidak sesuai lagi dengan perkembangan pemikiran baru yang sekarang ini sedang digalakkan, yaitukonsep school-based quality management (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, MPMBS). Pendekatan MPMBS menitikberatkan pada upaya perbaikan mutu pendidikan yang inisiatifnya berasal dari motivasi internal pendidik dan tenaga kependidikan itu sendiri (an effort to internally initiate endeavor for quality improvement), dan pragmatis-naturalistik. Dengan demikian, rancangan penelitian lebih menekankan pada pola pendekatan research action improvement (RAI) atau bersifat bottom-up. Lewat pendekatan RAI ini diharapkan akan segera tercipta solusi praktis-pragmatis, tidak hanya sekadar teoretis.&lt;br /&gt;Terkait dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan ini, MPMBS mengisyaratkan pula adanya kemitraan antarjenjang dan jenis pendidikan, baik pada tataran praktis-implementasional maupun dalam tataran gagasan-konseptual. Kebutuhan akan kemitraan yang sehat, produktif, dan yang dikembangkan atas prinsip kesetaraan sudah harus segera dilakukan. Kemitraan yang sehat dan produktif antara LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) dan sekolah adalah sesuatu yang penting dan strategis, lebih-lebih lagi dalam era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Penelitian pun hendaknya dikelola secara kolaboratif sehingga kedua belah pihak dapat memetik manfaat secara timbal balik (reciprocity of benefits).&lt;br /&gt;Upaya meningkatkan kompetensi guru untuk menyelesaikan masalah pembelajaran yang dihadapi saat menjalankan tugasnya dapat dilakukan melalui PTK yang dilakukan baik secara mandiri oleh guru yang bersangkutan maupun secara kolaboratif (baik antara guru dan dosen maupun antarsesama guru). Melalui PTK, masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan, dan dituntaskan sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil belajar yang optimal dapat diwujudkan secara sistematis. PTK menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja melalui pemecahan masalah-masalah pembelajaran (teaching-learning problems solving), sebab pendekatan penelitian ini menempatkan guru sebagai peneliti sekaligus sebagai agen perubahan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan cara demikian, para guru tidak lagi dianggap sekadar sebagai penerima pembaharuan yang diturunkan dari atas, tetapi guru bertanggung jawab dan berperan aktif untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui penelitian tindakan dalam proses pembelajaran yang dikelolanya. Latar belakang itulah yang melahirkan konsep PTK. Dengan PTK, guru akan memperoleh manfaat praktis. Ia dapat mengetahui secara jelas masalah-masalah yang ada di kelasnya dan bagaimana mengatasi masalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari mana istilah PTK muncul?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Munculnya istilah “classroom action research” atau penelitian tindakan kelas (PTK) sebenanya diawali dari istilah “action research” atau penelitian tindakan. Secara umum, ”action research” digunakan untuk menemukan pemecahan permasalahan yang dihadapi seseorang dalam tugasnya sehari-hari di mana pun tempatnya, baik di kantor, di rumah sakit, di kelas, maupun di tempat-tempat tugas lain. Dengan demikian para peneliti “action research” tidak berasumsi bahwa hasil penelitiannya akan menghasilkan teori yang dapat digunakan secara umum atau general. Hasil ”action research” hanya terbatas pada kepentingan penelitinya sendiri, yaitu agar dapat melaksanakan tugas di tempat kerjanya sehari-hari dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari sini jelaslah bahwa dilihat dari ruang lingkup, tujuan, metode, dan praktiknya, ”action research” dapat dianggap sebagai penelitian ilmiah mikro yang bersifat partisipatif dan kolaboratif. Dikatakan bersifat partisipatif karena “action research” dilakukan sendiri oleh peneliti mulai dari penentuan topik, perumusan masalah, perencanaan, pelaksanaan, analisis, dan pelaporannya. Dikatakan kolaboratif karena pelaksanaan “action research” (khususnya dalam pengamatannya) juga dapat melibatkan teman sejawat. Walaupun bersifat mikro, ”action research” berbeda dengan studi kasus karena tujuan dan sifat kasus yang terdapat pada “action research” tidaklah unik sebagaimana keunikan yang terdapat pada studi kasus. Namun, keduanya mempunyai kesamaan, yaitu peneliti tidak berharap hasil penelitiannya akan dapat digeneralisasikan atau berlaku secara umum. Sebab, sejak awal, kedua penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Istilah ”action research” sangat dikenal dalam penelitian pendidikan, bahkan sudah merupakan aliran tersendiri. Untuk membedakannya dengan ”action research” dalam bidang lain, para peneliti pendidikan sering menggunakan istilah “classroom action research” atau ”classroom research”. Dari sinilah istilah ”penelitian tindakan kelas” atau ”PTK” muncul. Dengan penambahan ”classroom” pada “action research”, kegiatan lebih diarahkan pada pemecahan masalah pembelajaran melalui penerapan langsung di kelas, walaupun istilah ”kelas” perlu dipahami lebih luas lagi, yaitu tidak hanya di ruang kelas, tetapi di tempat mana saja guru melakskanakan tugas-tugas pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa itu PTK?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terkait dengan pengertian PTK ini, ada beberapa rumusan definisi PTK yang perlu disiasati dan dipahami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hopkins (1993): PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif, yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakannya dalam melaksanakan tugas dan memperdalam pemahanan terhadap kondisi dalam praktek pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kemmis dan Mc. Taggart (1988 ): PTK adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, yang dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Rochman Natawijaya (1977): PTK adalah pengkajian terhadap permasalahan praktis yang bersifat situasional dan kontekstual, yang ditujukan untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi, atau memperbaiki sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suyanto (1997): PTK adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tim PGSM (1999): PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari kelima rumusan di atas dapat ditemukan kata-kata kunci (key words) yang terkait dengan PTK.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK bersifat reflektif. Maksudnya adalah PTK diawali dari proses perenungan atas dampak tindakan yang selama ini dilakukan guru terkait dengan tugas-tugas pembelajaran di kelas. Dari perenungan ini akan diketahui apakah tindakan yang selama ini telah dilakukan telah berdampak positif dalam pencapaian tujuan pembejaran atau tidak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK dilakukan oleh pelaku tindakan. Maksudnya adalah PTK dirancang, dilaksanakan, dan dianalisis oleh guru yang bersangkutan dalam rangka ingin memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapinya di kelas. Kalau toh dilakukan secara kolaboratif, pelaku utama PTK tetap oleh guru yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Maksudnya adalah dengan PTK ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas berbagai aspek pembelajaran sehingga kompetensi yang menjadi target pembelajaran dapat tercapai secara maksimal (efektif dan efisien).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri. Maksudnya adalah setiap langkah yang dilakukan dalam PTK harus dilakukan dengan terprogram dan penuh kesadaran sehingga dapat diketahui aspek-aspek mana yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki demi etercapaian kompetensi yang diargetkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PTK bersifat situasional dan kontekstual. Maksudnya adalah PTK selaku dilakukan dalam situasi dan kondisi tertertu, untuk kelas dan topik mata pelajaran tertentu, sehingga simpulan atau hasilnya pun hanya diarahkan pada konteks yang bersangkutan, bukan untuk yang konteks lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa Tujuan PTK?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berdasarkan pengertian tersebut, PTK bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada sisi lain, PTK akan mendorong para guru untuk memikirkan apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam menjalankan tugasnya. Mereka akan kritis terhadap apa yang mereka lakukan tanpa tergantung pada teori-teori yang muluk-muluk yang bersifat universal yang ditemukan oleh para pakar penelitian yang sering kali tidak cocok dengan situasi dan kondisi kelas. Bahkan, keterlibatan mereka dalam PTK sendiri akan menjadikan dirinya menjadi pakar peneliti di kelasnya, tanpa bergantung pada para pakar peneliti lain yang tidak tahu mengenai masalah-masalah kelasnya sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa Manfaat PTK?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Banyak manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan PTK. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan pelaksanaan PTK akan terjadi peningkatan kompetensi guru dalam mengatasi masalah pembelajaran yang menjadi tugas utamanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan pelaksanaan PTK akan terjadi peningkatan sikap profesional guru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan pelaksanaan PTK akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kinerja belajar dan kompetensi siswa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan pelaksanaan PTK akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan pelaksanaan PTK akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan pelaksanaan PTK akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan pelaksanaan PTK akan terjadi perbaikan dan/atau pengembangan pribadi siswa di sekolah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan pelaksanaan PTK akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kualitas penerapan kurikulum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mengapa guru dianggap paling tepat untuk melakukan PTK?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada beberapa bukti pembenar bahwa gurulah yang paling tepat untuk melakukan PTK. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Guru mempunyai hak otonom untuk menilai kinerjanya. Sebab, hanya gurulah yang dapat merasakan ”kondisi objektif” kiat-kiat pembelajaran yang dilakukan dalam rangka pencapaian kompetensi siswa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Guru merupakan sosok yang paling akrab dengan kelasnya. Kenyataan ini dapat dimaklumi karena keberlangsungan masa pembelajaran yang cukup lama akan membuka pemahaman dan wawasan guru atas ”pernik-pernik” ang berada di kelasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Interaksi antara guru-siswa berlangsung secara unik. Hal ini dibuktikan dengan perlakukan khas guru setiap menghadapi individu siswa yang mempunyai karakteristis tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Temuan penelitian tradisional sering sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan PTK di kelasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa karakteristik PTK?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apabila dirumuskan, karakteristik PTK dapat dijabarkan sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Masalah PTK berawal dari guru.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;PTK haruslah dilhami oleh permasalahan praktis yang dihayati oleh guru sebagai pelaku pembelajaran di kelas. Guru merasakan ada masalah di kelasnya ketika dia mengajar. Guru berusaha untuk mengatasi masalah di kelas itu dengan sebuah penelitian yang disebut PTK. PTK bukanlah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak tahu tentang seluk-beluk yang terjadi dalam kelas. PTK bukan penelitian yang disarankan oleh pihak lain kepada guru, melainkan muncul dari dalam diri guru sendiri yang merasakan adanya masalah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tujuan PTK adalah memperbaiki pembelajaran.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dengan PTK, guru akan berupaya untuk memperbaiki praktik pembelajaran agar menjadi lebih efektif. Oleh kerena itu, guru tidak boleh mengorbankan proses pembelajaran karena melakukan PTK. PTK tidak boleh menjadikan proses pembelajaran terganggu. Guru tidak perlu mengubah jadwal rutin di kelas yang sudah direncanakan hanya untuk PTK. PTK haruslah sejalan dengan rencana rutin Anda sebagai guru. Bahkan, PTK juga diharapkan tidak lagi memberikan beban tambahan yang lebih berat bagi Anda. PTK justru harus dikerjakan terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di kelas (Lihat Suyanto, 1997).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Guru tidak harus sendirian dalam upaya memperbaiki praktik pembelajaran di kelas. Hal itu dapat Anda laksanakan dengan cara berkolaborasi dengan dosen LPTK maupun dengan teman sejawat. Dengan cara itu, sebagai guru, Anda akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK yang benar. Dosen dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang baik untuk merumuskan masalah yang tepat, menentukan hipotesis tindakan yang baik, serta membantu analisis data penelitian. Sebaliknya, dosen LPTK dapat memperoleh masukan yang berharga dari orang yang benar-benar berkecimpung di kancah yang tahu secara persis tentang permasalahan yang terjadi di kelasnya. Yang lebih penting lagi ialah terbentuknya hubungan kesejawatan yang harmonis antara guru dengan guru ataupun antara guru dengan dosen LPTK. Kehadiran dosen LPTK dalam PTK adalah sebagai mitra sejawat dan bukan sebagai sosok yang mahatahu yang akan mendikte guru dalam penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tindakan-tindakan tertentu tersebut dapat berupa penggunaan metode pembelajaran tertentu, penerapan strategi pembelajaran tertentu, pemakaian media dan sumber belajar tertentu, jenis pengelolaan kelas tertentu, atau hal-hal yang bersifat inovatif lainnya. Oleh karena itu, penelitian di kelas yang tanpa memberikan tindakan apa-apa di kelas untuk perbaikan praktik pembelajaran bukanlah PTK. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda – dengan melibatkan siswa – Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan paktik pembelajaran. Dengan demikian, Anda dapat membuktikan apakah suatu teori pembelajaran dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori itu untuk diterapkannya di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien, optimal, dan fungsional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nah, dengan uraian “sekilas info” tersebut, Anda diharapkan telah mempunyai wawasan yang relatif memadai tentang konsep PTK. Apabila ada beberapa konsep yang kurang Anda pahami, Anda dapat mendiskusikannya dengan teman sejawat, kepala sekolah, pengawas, atau siapa saja yang Anda anggap cocok untuk diajak berdiskusi. Ingatlah bahwa kebiasaan Anda untuk berdiskusi dengan teman sejawat dan keterbukaan Anda untuk menanyakan hal-hal yang tidak Anda ketahui kepada orang yang lebih tahu (misalnya kepala sekolah, pengawas) merupakan indikator keprofesionalan Anda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;-------&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Pada bagian berikut ini Anda akan diajak mengembangkan fokus masalah yang akan dilakukan pemecahannya dalam PTK. Ikuti setiap tahapan yang disarankan! Optimislah bahwa Anda dapat melaksanakannya. Sebab, melaksanakan PTK tidaklah sesulit yang dibayangkan oleh sebagian besar guru!&lt;br /&gt;Ayo, yakinlah bahwa Anda dapat melaksakan PKT!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian lebih lanjut silakan baca Melaksanakan PTK itu Mudah oleh Masnur Muslih (Bumi Aksara, 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785344900481502791-1687376747078612958?l=ptk-masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/feeds/1687376747078612958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785344900481502791&amp;postID=1687376747078612958' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/1687376747078612958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785344900481502791/posts/default/1687376747078612958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ptk-masnur-muslich.blogspot.com/2008/10/menengok-konsep-dasar-penelitian.html' title='Ayo, Menengok Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
